Skip to main content

Full text of "ebook tauhid dan jihad_1"

See other formats


Ya... Mereka Memang Thaghut! 



Bantahan atas manipulasi dan fitnah Khairul Ghazali 
dalam bukunya "Mereka Bukan Thaghut' 



i-?? 



Oleh: Ustadz Aman Abdurrahman hajldhohulloh 



Mukaddimah oleh: 
Ustadz Abu Bakar Ba'asyir hajldhohulloh 



At-Tawhid wal Jihad 



Daftar Isi 

Mukaddimah: penguasa NKRI sejak merdeka hingga saat ini adalah thaghut, oleh 
Ustadz Abu Bakar Ba'asyir . . . H&l 3 

Ya... mereka memang thaghut! (Bantahan atas manipulasi dan titnah Khairul Ghazali 
dalam bukunya "mereka bukan thaghut") . . . Hdl 5 

Pertama, menyoroti pengkaburan makna thaghut . . . H&l 6 

Kedua, bantahan terhadap titnah dia terhadap saya bahwa saya mengkatirkan semua 
pns dan menganggap semua pns itu sebagai thaghut . . . Hdl 19 

Judul pertama: Status bekerja di dinas pemerintahan thaghut . . . H&l 21 

Judul kedua: Rincian bekerja di dinas pemerintahan thaghut . . . H&l 29 

Judul ketiga: Pelita penerang bagi pertanyaan penduduk jazirah . . . H&l 46 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 2 ] 



At-Tawhid wal Jihad 



Mukaddimah 

Penguasa NKRI Sejak Merdeka Hingga Saat Ini 

Adalah Thaghut 



B 



Ismillahirrahmanirrahim 



Segala puji bagi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, Pemilik, Penguasa, Pengatur dan 
pemelihara alam semesta, Shalawat dan salam semoga dilimpahkan atas utusan-Nya 
yang terpecaya Nabi Muhammad shallallahu'alaihi wa sallam, atas semua keluarganya, 
semua sahabatnya dan semua hamba Allah yang mengikuti sunnahnya sampai hari 
qiyamat. Aamin.. 'Ammaba'du... : 

Allah SWT berfirman : 

"Sesungguhnya, mereka (orang kajir) merencanakan tipu daya yang jahat, dan Aku 
pun membuat rencana (tipu daya) yang jitu. Karena itu berilah penangguhan kepada 
orang-orang kajir. Berilah mereka kesempatan untuk sementara waktu " (Ath Thoriq : 
15-16-17). 

Dalam ayat-ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa orang-orang kafir selalu membuat 
makar (tipu daya) untuk menyesatkan dan memurtadkan ummat Islam, tetapi Allah 
akhirnya mengagalkan makar mereka. Di antara makar mereka yang dahsyat terutama di 
akhir zaman ini adalah menggerakkan thaghut-thaghut agar menguasai negara-negara 
ummat Islam, bahkan negara ummat Islam Indonesia. 

Sejak merdeka terkena makarnya orang-orang kafir sehingga dikuasai kaum Nasionalis, 
Sosialis, Demokrat, sekuler. 

Mereka mengatur Indonesia dengan hukum jahiliyah dan membuang hukum Allah, 
maka mereka adalah Thaghut kafir yang menjerumuskan ummat Islam kepada 
kegelapan hidup (syirik, munkar, kekafiran) seperti diterangkan oleh Allah dalam 
firman-Nya: 



^Lki! ^jUJj! IjjiS ^JUtj 



"Dan orang-orang kajir, para pemimpin mereka adalah thaghut.... " (Q.S Al-Baqarah 
: 257). 

Thaghut-thaghut penguasa N.K.R.I menampakan diri sebagai muslim dengan 
mengamalkan sholat, shiyam, zakat, haji dan lain-lain agar ummat Islam bersedia 
menerimanya sebagai Ulil Amri yang ditaati, bahkan untuk tujuan ini thaghut-thaghut 
menyewa ulama-ulama suu', ustadz-ustadz, mubaligh yang berakidah Murji'ah Ekstrim 
untuk meyakinkan ummat Islam bahwa mereka bukan Thaghut. 

Di antara makar Thaghut Indonesia akhir-akhir ini adalah terbitnya buku yang berjudul: 
"MEREKA BUKAN THAGHUT" yang ditulis oleh Khairul Ghazali untuk mengelabui 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 3 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

ummat islam agar meyakini bahwa rezim N.K.R.I adalah benar-benar muslim bukan 
thaghut. 

Untuk melawan makar yang sangat membahayakan tauhid ini, seorang hamba Allah 
pengikut ulama salaf, yaitu Ustadz Amman Abdurrahman menulis buku: "Yaa... 
Mereka Memang Thaghut!". 

Di dalam buku tersebut beliau membongkar kecurangan Kahirul Ghazali dalam 
menerangkan detinisi Thaghut. Tampaknya Khairul Ghazali diperalat oleh thaghut 
untuk mensukseskan makarnya. Maka buku: "Mereka Bukan Thaghut" adalah bentuk 
makar thaghut yang merusak tauhid dan iman kaum muslimin. Maka kepada Khairul 
Ghazali saya 'Peringatkan' bahwa posisi Anda sekarang adalah termasuk golongan 
"Ansharuth Thaghut", makanya segeralah bertaubat !! dan berusahalah menjadi 
golongan "Anshorullah" seperti yang diperintahkan oleh Allah dalam firman-Nya : 



<Ul! jU^2Jl tjijSljJlJ»! (NjJu! LgJl ^i 



"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu anshorullah...." (Q.S Ash Shaf : 
14). 

Semoga Ustadz Amman Abdurrahman selalu ditolong oleh Allah SWT dalam usaha- 
usahanya menegakkan tauhid dan semoga buku yang beliau tulis ini diterima sebagai 
amal sholeh di sisi Allah SWT. Amin 



Wassalam. 



Bareskrim Mabes Polri : 
HShofarl433H/ 5-1-2012. 

Al Fakiir Ilaallah. 
Abu Bakar Ba'asyir 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 4 ] 



At-Tawhid wal Jihad 



Ya... Mereka Memang Thaghut ! 

Bantahan atas manipulasi dan titnah Khairul Ghazali 
dalam bukunya "Mereka Bukan Thaghut" 



Segala puji hanya milik Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga 
senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para shahabat. 

Allah berfirman: 

3>3 j^ ji $&> tf£ foi\j ^l jJsi^ ijop -y jjfl &* £lti£j 

5j^xij Uj lftjJl3 «ji*i U tiJijj s-U jlj Ijj^P Jjfl)l 

"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan 
(dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada 
sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). 
Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka 
tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. " (QS. Al An'am: 112) 

Ayat ini menjelaskan bahwa setiap nabi itu memiliki musuh dakwah yang menyebarkan 
bisikan-bisikan kesesatan yang dipoles dalam bentuk yang indah dalam rangka menipu 
umat. Dan begitu juga para pelanjut dakwah para nabi memiliki banyak lawan dan 
musuh yang melontarkan kesesatan yang dikemas dalam kemasan yang menarik 
sehingga menipu umat. 

Itulah kiranya apa yang dilakukan penulis buku "Mereka Bukan Thaghut" yang 
bernama Khairul Ghazali yang merelakan dirinya untuk menjadi corong para thaghut 
dalam rangka menutupi kekatiran dan kedzaliman mereka yang nampak jelas dan dalam 
rangka memtitnah dakwah tauhid dengan fitnah yang busuk. 

Tulisan saya ini akan menyoroti dua hal: 

Pertama, menyoroti pengkaburan makna thaghut yang dilakukan Khairul Ghazali 
dalam bukunya. 

Dan yang ke dua adalah bantahan terhadap fitnah dia terhadap saya bahwa saya 
mengkatirkan semua PNS dan menganggap semua PNS itu sebagai thaghut. 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 5 ] 



At-Tawhid wal Jihad 



Pertama, Menyoroti Pengkaburan Makna Thaghut 



Khairul Ghazali membela pemerintah thaghut dengan cara mencampur-adukan makna 
thaghut secara lughawiy (bahasa) dengan makna syar'iy (istilah), dan saat 
menyimpulkan tulisannya ini dia berpegang terhadap makna lughawiy dan 
mencampakkan makna syar'iy. Sehingga dia memasukan dalam rengrengan thaghut itu 
para ahli maksiat yang tidak sampai pada tahap kekatiran seperti koruptor, ahli maksiat, 
perampas hutan dan alam rakyat dan yang lainnya, dimana dia berkata dalam bukunya 
itu, "Pada saat sekarang, aktijitas perang dengan thaghut -setan, pengumbar nafsu, 
pengobral narkoba, koruptor, tukang sihir, ahli maksiat, dukun/tukang santet, mafia 
peradilan, penguasa yang menyalah gunakan kekuasaan, polisi/TNI yang menganiaya 
dan menindas rakyat, parampas hutan dan alam rakyat, dan yang lainnya- tidak boleh 
dilakukan dengan kekerasan... " (hal. 70-71). 

Padahal Islam itu datang dengan membawa perubahan makna lughawiy kepada makna 
syar'iy, umpamanya kata sholat secara lughawi adalah do'a sedangkan makna syar'i 
adalah ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. 
Begitu juga shaum, secara bahasa adalah al imsak (menahan diri) sedangkan makna 
syar'iy adalah menahan diri dari makan, minum dan hubungan badan sejak terbit fajar 
sampai terbenam matahari dengan disertai niat. Maka begitu (pula istilah) thaghut 
secara bahasa maknanya adalah melampaui batas, sedangkan makna syar'iy adalah 
segala yang dilampaui batasnya oleh si hamba baik itu yang diibadati ataupun yang 
diikuti ataupun yang ditaati. 

Imam Ibnu Jarir Ath Thabari rahimahullah berkata : "Dan yang benar menurut saya 
tentang (makna) thaghut adalah segala yang menentang terhadap Allah dimana dia 
diibadati selain-Nya, baik dengan paksaan darinya terhadap yang mengibadatinya 
maupun dengan ketaatan kepadanya dari yang mengibadatinya, sama saja baik yang 
diibadati itu adalah manusia, atau syaitan, atau berhala, atau patung atau apa saja." 
(Tatsir Ath Thabari 3/21, lihat kitab Ath Thaghut milik Abu Bashir halaman 66). 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : "Thaghut adalah wazanfa'alut 
dari thughyan, sedangkan thugyan itu adalah melampaui batas, yaitu kedzaliman dan 
aniaya. Maka yang diibadati selain Allah bila dia itu tidak membenci peribadatan 
tersebut adalah thaghut, oleh sebab itu nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menamakan 
patung-patung sebagai thaghut di dalam hadits shahih tatkala beliau berkata: "Dan 
orangyang menyembah para thaghut dia mengikuti para thaghut itu. " Dan yang ditaati 
dalam maksiat kepada Allah, juga yang ditaati dalam mengikuti kesesatan dan dalam 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 6 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

selain dienul haq, baik dia itu diterima beritanya yang menyelisihi kitabullah atau ditaati 
perintahnya yang menyelisihi perintah Allah maka ia itu adalah thaghut, oleh sebab itu 
orang yang dirujuk hukum yang memutuskan dengan selain kitabullah adalah 
dinamakan thaghut,..." (Majmu' Al Fatawa: 28/200, lihat kitab Ath Thaghut milik Abu 
Bashir halaman 66). 

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata : "Thaghut adalah segala yang dilampaui 
batasnya oleh si hamba, baik itu yang diibadati ataupun yang diikuti ataupun yang 
ditaati, maka thaghut setiap kaum adalah orang yang mana mereka merujuk hukum 
kepadanya selain Allah dan Rasul-Nya, atau yang mereka ibadati selain Allah, atau 
yang mereka ikuti di atas selain petunjuk dari Allah, atau yang mereka taati di dalam 
apa yang mereka tidak ketahui bahwa itu adalah ketaatan kepada Allah; ini adalah 
thaghut-thaghut di dunia, jika memperhatikannya dan memperhatikan keadaan manusia 
bersamanya tentu engkau melihat mayoritas mereka telah berpaling dari peribadatan 
kepada Allah (ibadatullah) terhadap peribadatan kepada thaghut (ibadatuththaghut), dan 
dari ketaatan kepada-Nya serta ittiba kepada Rasul-Nya terhadap ketaatan dan ittiba 
kepada thaghut." (A'lamul Muwaqqi'in: 1/50, lihat kitab Ath Thaghut milik Abu Bashir 
halaman 67). 

Imam Al Qurthubiy rahimahullah berkata: "Thaghut adalah dukun, setan, dan setiap 
tokoh dalam kesesatan." (Al Jami Li Ahkamil Qur'an: 3/282, lihat kitab Ath Thaghut 
milik Abu Bashir halaman 67). 

Imam An Nawawi rahimahullah berkata: "Al Laits, Abu Ubaidah, Al Kisa-iy dan 
jumhur ahli bahasa berkata: Thaghut adalah segala yang diibadati selain Allah ta'ala." 
(Syarh Shahih Muslim: 3/18, lihat kitab Ath Thaghut milik Abu Bashir halaman 67). 

Perlu diingat bahwa yang namanya ibadah itu bukan hanya ritual sholat, do'a, 
istighatsah, sujud dan hal-hal yang serupa itu yang sudah diketahui olah banyak orang, 
akan tetapi penyandaran hak pembuatan hukum atau ketaatan kepada hukum buatan itu 
adalah peribadatan kepada si pembuat hukum tersebut sebagaimana penjelasan tirman 
Allah Subhanahu Wa Ta 'ala : 

14 Ijj&J \ \ } >J\ Uj jcj* <J>\ £~^j «JJi o 3 i J> lujt jUj^*33 f-*j^ b^ 1 

djtj^ LIp SjUJi, ji % sjj y tju-lj 

"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai 
arbab (tuhan-tuhan) selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera 
Maryam. Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali mereka hanya menyembah 
Tuhan Yang Esa, tidak ada ilah (Tuhan yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci 
Allah dari apa yang mereka persekutukan. " (QS. At Taubah: 31). 

Dalam ayat ini Allah memvonis orang Nashrani dengan lima vonis: 

1 . Mereka telah mempertuhankan para alim ulama dan para rahib 

2. Mereka telah beribadah kepada selain Allah, yaitu kepada alim ulama dan para rahib 

3. Mereka telah melanggar Laa ilaaha illallaah 

4. Mereka telah menjadi musyrik 

5. Para alim ulama dan para rahib itu telah memposisikan dirinya sebagi arbab. 

Imam At Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan, bahwa ketika ayat ini dibacakan oleh 
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam di hadapan 'Adiy ibnu Hatim (seorang shahabat 
yang asalnya Nashrani kemudian masuk Islam), 'Adiy ibnu Hatim mendengar ayat-ayat 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 7 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

ini dengan vonis-vonis tadi, maka 'Adiy mengatakan: "Kami (orang-orang Nashrani) 
tidak pernah shalat atau sujud kepada alim ulama dan rahib (pendeta) kami", Jadi 
maksudnya dalam benak orang-orang Nashrani adalah; kenapa Allah memvonis kami 
telah mempertuhankan mereka, atau apa bentuk penyekutuan atau penuhanan yang telah 
kami lakukan sehingga kami disebut telah beribadah kepada mereka padahal kami tidak 
pernah shalat atau sujud atau memohon-mohon kepada mereka? Maka Rasul 
mengatakan: "Bukankah mereka (alim ulama dan para rahib) menghalalkan apa 
yang Allah haramkan terus kalian ikut menghalalkannya, dan bukankah mereka 
telah mengharamkan apa yang Allah halalkan terus kalian ikut 
mengharamkannya?" Lalu 'Adiy menjawab: "Ya", Rasul berkata lagi: u Itulah bentuk 
peribadatan mereka (orang Nashrani) kepada mereka (alim ulama danpara rahib)" 

Jadi bentuk peribadatan di sini adalah ketika alim ulama itu membuat hukum di 
samping hukum Allah, kemudian hukum tersebut diikuti dan ditaati oleh para 
pengikutnya, maka si alim ulama atau pendeta tersebut Allah Subhanahu Wa Ta 'ala cap 
mereka sebagai Arbab atau sebagai orang yang memposisikan dirinya sebagai tuhan 
selain Allah, sedangkan orang yang memposisikan dirinya sebagi pembuat hukum atau 
sebagai tuhan selain Allah, maka dia itu adalah orang katir. Dan dalil yang lain adalah 
tirrnan Allah Subhanahu Wa Ta 'ala: 



4Ut 4j 0i£> pi U jjlil j* p$ \j*j& i&£ j^JJ jtf 



"Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu yang menetapkan bagi mereka dari dien 
(hukum/ajaran) ini apayang tidakAllah izinkan?" (QS. Asy Syuura: 21) 

Dalam ayat ini Allah mencap para pembuat hukum selain Allah sebagai 
syuraka ' (sekutu-sekutu) yang diangkat oleh para pendukungnya sebagai sekutu 
Allah Subhanahu Wa Ta 'ala, sedangkan orang yang memposisikan dirinya sebagai 
sekutu bagi Allah adalah orang kafir. 

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata: "Thaghut adalah umum 
mencakup segala sesuatu yang disembah selain Allah, sedang dia itu rela dengan 
peribadatan tersebut, baik yang disembah, atau yang diikuti, atau yang ditaati dalam 
bukan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, ini adalah thaghut. 

Thaghut-thaghut itu banyak sekali, sedangkan tokoh-tokohnya ada lima: 

Pertama: Syaitan yang mengajak untuk beribadah kepada selain Allah, sedangkan 
dalilnya adalah tirman Allah: 

*jj jJtP j^3 aSj 5iklii ijJoi 4 of j6T ^ u ^ji &\ fi 

"Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak 
menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu. " 
(QS. Yaasiin: 60). 

Kedua: Pemerintah yang dhalim yang merubah hukum-hukum Allah 1 , sedangkan 
dalilnya adalah firman-Nya: 



1 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: "Orang dikala menghalalkan sesuatu yang 
disepakati keharamannya atau mengharamkan sesuatu yang disepakati kehalalannya, atau merubah 
syari'at yang sudah disepakati, maka dia itu kafir murtad dengan kesepakatan para fuqaha." (Majmu' Al 
Majmu 3/267) 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 8 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

d\ b/jjj, dU3 & j/f uj dO Jj/f Uj. ijiiT ^jjl 6>4pjj jjiJi Ji jj ^l 

l*L*j S%£ l^L^ 0f JlklJl Ijj Aj ijji&i 0f lj>l Oij OjPliaJl Jl Ij^Utaj 

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman 
kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum 
kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah 
mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) 
penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisaa: 60) 

Ketiga: Orang yang memutuskan hukum dengan sesuatu yang bukan diturunkan Allah , 
sedangkan dalilnya adalah tirman Allah: 

6jj»l£il fi dbj/U iJJi Jjit U ^k \ jtj 

"Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, 
maka mereka itu adalah orang-orang kajir. " (QS. Al-Maidah: 44) 

Keempat: Orang yang mengklaim mengetahui hal yang ghaib padahal itu adalah hak 
khusus Allah, sedangkan dalilnya adalah firman-Nya: 

"(2)za adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan 
kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasul yang diridlai-Nya, 
maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (Malaikat) di muka dan di 
belakangnya. " (QS. Al Jinn: 26-27) 

Dan firman-Nya: 



Coba perhatikan: Sekarang perjudian dibolehkan di tempat-tempat tertentu yang sudah dilokasikan, 
pelacuran dibolehkan di tempat-tempat khusus bahkan ada pajak atas kedua hal itu, praktek riba diberikan 
perlindungan hukum. Bukankah ini di antara bentuk penghalalan? 

Bahkan bukankah Allah menetapkan bahwa tidak ada pilihan dalam menerima ajaran-Nya itu? tapi 
sekarang mereka menetapkan sistem yang memberikan hak bebas bagi rakyat untuk memilih apa yang 
mereka sukai tergantung suara mayoritas? bukankah ini bentuk perubahan akan syari'at ? <p 

2 Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: "Siapa yang meninggalkan hukum yang muhkam yang 
ditumnkan kepada Muhammad Ibnu Abdillah penutup para Nabi dan dia malah berhukum kepada syariat- 
syariat lain yang sudah dihapus, maka dia itu kafir, maka apa gerangan dengan orang yang berhukum 
kepada Yasiq (hukum buatan) dan lebih mengedepankannya terhadap hukum syariat itu, maka siapa yang 
melakukannya maka dia itu kafir dengan ijma' kaum mushmin. (AI Bidayah Wan Nihayah 13/119). 

Bila ini status orang yang berhukum kepada undang-undang buatan, maka apa gerangan dengan orang 
yang menghukumi dengan undang-undang buatan itu? Ini namanya thaghut. Mereka mendirikan lembaga 
untuk penggodokan hukum dan perundang-undangan, merubah, menambah, mengganti dan 
seterusnya (pent) . 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 9 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci sem.ua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya 
kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan apa yang ada di 
lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), 
dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah 
atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz) " (QS. Al 
An'am: 59) 

Kelima: Segala sesuatu yang disembah selain Allah, sedangkan dia rela dengan 
penyembahan tersebut, dan adapun dalilnya adalah tirman Allah: 

"Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan: "Sesungguhnya aku adalah Tuhan 
selain daripada Allah, " maka orang itu Kami beri balasan dengan jahannam, demikian 
Kami memberikan balasan kepada orang-orang dhalim. " (QS. Al Anbiyaa: 29) 

Ketahuilah bahwa orang itu tidak bisa dianggap sebagai orang yang beriman kepada 
Allah kecuali dengan kufur terhadap thaghut, dan adapun dalilnya adalah tirman Allah: 

00 mI jt $ j B, ^, a a x «J -- 

r_aJiJl ?jb*^ iiJ-C^«JU«l jJU aJJL ry^iij OaPUaJb y&^i ,%Xi fju\ ^X^y\ ^jCJ Ss 

d f\^>\ S 

"Telah jelas kebenaran dari kesesatan, karena itu barangsiapa ingkar kepada thaghut 
dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali 
yang amat kuatyang tidak akan putus. " (QS. Al Baqarah: 256) 

Ar Rusydu adalah agama Muhammad dan Al Ghayy adalah agama Abu Jahal, 
sedangkan Al 'Urwah Al Wutsqaa adalah kesaksian Laa Ilaaha Illallaah, di mana hal ini 
mengandung penatian dan penetapan. Menatikan semua macam ibadah dari selain 
Allah, dan menetapkan seluruh ibadah hanya kepada Allah yang tidak ada sekutu bagi- 
Nya." (Majmu'atut Tauhid) 

Syaikh Muhammad Hamid Al Faqiy rahimahullah berkata: "Dan yang 
disimpulkan dari pernyataan salaf radliyallahu 'anhum: Bahwa thaghut adalah segala 
yang memalingkan si hamba dan menghalanginya dari peribadatan kepada Allah dan 
(dari) pemurnian ketundukan dan ketaatan bagi Allah dan Rasul-Nya, baik dalam hal itu 
adalah syaitan dari kalangan jin dan syaitan dari kalangan manusia, maupun pepohonan, 
bebatuan dan yang lainnya. Dan tidak diragukan lagi masuk dalam hal itu adalah 
pemutusan hukum dengan undang-undang di luar Islam dan diluar ajarannya serta hal 
lainnya yang dibuat oleh manusia untuk dijadikan bahan pemutusan hukum dalam 
perkara darah, kemaluan, dan harta, dan dengannya dia menggugurkan syari'at Allah 
berupa penegakkan hudud, pengharaman riba, zina, khamr, dan yang lainnya, yang 
mana undang-undang buatan itu telah menghalalkannya dan melindunginya dengan 
pemberlakuannya dan penerapan para aparatnya. Sedangkan undang-undang buatan itu 
sendiri adalah thaghut dan orang yang membuatnya serta yang mensosialisasikannya 
adalah thaghut juga. Dan begitu juga segala kitab yang dibuat oleh akal manusia dalam 
rangka memalingkan dari kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'aihi wa 
sallam, baik secara sengaja ataupun tanpa kesengajaan dari pembuatnya, maka ia adalah 
thaghut." (Hasyiyah Kitah Fathil Majid: 282 cetakan Darul Kutub Al Ilmiyyah, lihat 
kitab Ath Thaghut milik Abu Bashir halaman 70). 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 10 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

Dan ucapan-ucapan ulama lainnya tentang makna thaghut secara syar'iy dan contoh- 
contohnya yang mana di antara thaghut yang disebutkan adalah para penguasa yang 
memberlakukan hukum buatan lagi meninggalkan hukum Allah. Adapun penekanan 
banyak para penulis tentang thaghut terhadap pembahasan kethaghutan para penguasa 
semacam yang tadi sudah disebutkan bukanlah dalam rangka menganggap tunggal 
makna thaghut terhadap mereka saja, akan tetapi pemberian porsi yang lebih banyak 
karena kondisi menuntut hal itu, dimana thaghut-thaghut yang lain pun seperti dukun 
dan tukang santet adalah berlindung atau mendapat perlindungan dari thaghut hukum. 

Dan bahkan secara sentimen gaya BNPT Khairul Ghazali menyebutkan bahwa para da'i 
tauhid yang menentang ideologi pemerintah thaghut ini adalah thaghut pula, dimana dia 
berkata dalam hal 61 : "Pada tataran ini, para ideologi yang memompakan agitasi dan 
semangat jihad yang meluap-luap, akhirnya mereka telah resmi menjadi "thaghut" 
tanpa disadari -merujuk kepada makna thaghut, tindakan yang melampaui batas dan 
ekstrem di dalam memahami sesuatu dan bertindak radikal yang menimbulkan 
gangguan ketentraman dan keamanan bagi orang lain " 

Tapi lucunya, dia menganggap pemerintah yang berhukum dengan hukum thaghut lagi 
memerangi pemberlakuan syari'at Islam adalah bahwa mereka itu bukan thaghut dan 
tidak kafir dengan merujuk kepada Syaikh Al Albani yang dalam permasalahan ini 
terjatuh dalam kesesatan paham Ghulatul Murjiah dimana menganggap tindakan 
pemerintah thaghut ini hanya kujrun duna kujrin (kekatiran kecil yang tidak 
mengeluarkan dari islam). Padahal itu adalah paham yang sesat yang menyelisihi aqidah 
Ahlu Sunnah Wal Jama'ah yang meyakini bahwa berhukum dengan undang-undang 
buatan itu adalah kekatiran yang mengeluarkan dari Islam tanpa melihat keyakinan 
hatinya. 

Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: "Barangsiapa meninggalkan hukum yang 
muhkam (baku) yang diturunkan kepada Muhammad ibnu Abdillah penutup para nabi, 
dan dia malah merujuk hukum kepada hukum-hukum (Allah) yang sudah dihapus, maka 
dia kafir. Maka apa gerangan dengan orang yang mengacu kepada Ilyasa (Yasiq) dan 
dia mendahulukannya terhadap ajaran Allah, maka dia kafir berdasarkan ijma kaum 
muslimin." (Al Bidayah Wan Nihayah: 13/119). 

Ilyasa adalah kitab hukum yang dibuat oleh Jenggis Khan raja Tartar. Kitab ini 
merupakan kumpulan yang sebagiannya diambil dari Taurat orang Yahudi, Injil orang 
Nashrani, Al Qur'an dan ajaran ahli bid'ah ditambah dengan hasil buah iikirannya lalu 
dikoditikasikan menjadi sebuah kitab yang disebut Ilyasa atau Yasiq. Para ulama 
muslimin sepakat mengatakan bahwa siapa saja yang merujuk kepada kitab seperti 
hukum ini, maka dia kafir dengan ijma kaum muslimin. Maka demikian pula dengan 
Yasiq 'Ashri (Yasiq Modern), yaitu Undang Undang Dasar, KUHP, dan lain-lain, 
dimana hukum itu diambil dari orang-orang Nashrani (seperti orang Belanda dengan 
KUHP-nya), dan ada juga dari Islam seperti masalah pernikahan. 

Lagi pula sesungguhnya kekatiran pemerintah ini bukan hanya dari sisi karena tidak 
memberlakukan (syariat) Islam dan menggantinya dengan hukum buatan saja, akan 
tetapi telah kafir dari banyak sisi yang di antaranya: 

A. Mereka Menjadi Thaghut 

Kenapa demikian?, ini karena mereka dengan dewan legislatitnya dan sebagian 
eksekutitnya mengklaim sebagai pembuat hukum, mengklaim yang berhak membuat 
hukum dan perundang-undangan, bahkan mereka telah membuat dan memutuskan, 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [11] 



At-Tawhid wal Jihad 

maka mereka adalah thaghut itu sendiri. Mereka menjadi pembuat hukum yang 
hukumnya diikuti (baca: diibadati) oleh ansharnya. 

1 . Allah Subhanahu Wa Ta 'ala bertirman: 

d\ 5jlj &l3 ^ j/f Uj ld( j/f iSc IjIiT J4S D^iijj ^JJI jl y c jff 

4j IjjiSsj jl Ijj^l Jl5J OjPlkJl Jl Iji 



"Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa 
dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang 
diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka 
telah diperintah mengingkari thaghut itu. " (QS. An Nisa: 60) 

Banyak masyarakat atau anshar thaghut atau siapa saja di antara mereka, ketika 
memiliki kasus di negeri ini, apakah mereka mengajukan kasusnya kepada hukum Allah 
ataukah kepada hukum selaim hukum Allah? Tentu mereka mengajukannya kepada 
hukum selain hukum Allah, yang mana hukum itu dibuat oleh para thaghut tadi di 
gedung Palemen, baik yang ada di lembaga legislatif atau lembaga eksekutit maupun 
para pemutusnya di dewan yudikatif. 

Mereka adalah thaghut, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad ibnu 
Abdil Wahhab rahimahullah dalan Risalah Fie Ma'na Thaghut, bahwa pentolan 
thaghut yang kedua adalah "Penguasa Dzalim Yang Merubah Ketentuan Allah". 

Sedangkan di negeri ini, semua hukum Allah dirubah... mulai dari hukum pidana, 
perdata, ekonomi, dan lain-lain. Semua dicampakkan dan mereka sepakat tidak 
memakai hukum yang Allah turunkan, sedangkan sesorang tidak bisa dikatakan sebagai 
orang muslim kecuali bila kafir kepada thaghut. Dan bagaimana mereka bisa dikatakan 
muslim dan mereka berlepas diri dari thaghut sedangkan dalam hal ini mereka sendiri 
adalah thaghutnya. . . ?? ! 

2. Allah Subhanahu Wa Ta 'ala berfirman: 

I4JI IjJ&J \ \fr\ Uj jcj* <J>\ ^yyJlj JJI Jj^ JL bUjt ^Uijj jUjl^-t °\/j£\ 

bjtj4 [Zj> 4jU4^ ji % 4J1 y \^\j 

"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai arbab 
(tuhan-tuhan) selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera 
Maryam, padahal mereka tidak diperintahkan kecuali mereka hanya menyembah Tuhan 
Yang Esa, tidak ada ilah (Tuhan yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah 
dari apa yang mereka persekutukan. " (QS. At Taubah: 31) 

Dalam ayat ini Allah memvonis orang Nashrani dengan lima vonis: 

1 . Mereka telah mempertuhankan para alim ulama dan para rahib 

2. Mereka telah beribadah kepada selain Allah, yaitu kepada alim ulama dan para rahib 

3. Mereka telah melanggar Laa ilaaha illallaah 

4. Mereka telah musyrik 

5. Para alim ulama dan para rahib itu telah memposisikan dirinya sebagi rabb. 

Imam At Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan, bahwa ketika ayat ini dibacakan oleh 
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam di hadapan 'Adiy ibnu Hatim (seorang shahabat 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 12 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

yang asalnya Nashrani kemudian masuk Islam), 'Adiy ibnu Hatim mendengar ayat-ayat 
ini dengan vonis-vonis tadi, maka 'Adiy mengatakan: "Kami (orang-orang Nashrani) 
tidak pernah shalat atau sujud kepada alim ulama dan rahib (pendeta) kami", Jadi 
maksudnya dalam benak orang-orang Nashrani adalah; kenapa Allah memvonis kami 
telah mempertuhankan mereka, atau apa bentuk penyekutuan atau penuhanan yang telah 
kami lakukan sehingga kami disebut telah beribadah kepada mereka padahal kami tidak 
pernah shalat atau sujud atau memohon-mohon kepada mereka? Maka Rasul 
mengatakan: "Bukankah mereka (alim ulama dan para rahib) menghalalkan apa 
yang Allah haramkan terus kalian ikut menghalalkannya, dan bukankah mereka 
telah mengharamkan apa yang Allah halalkan terus kalian ikut 
mengharamkannya?" Lalu 'Adiy menjawab: "Ya", Rasul berkata lagi: "Itulah bentuk 
peribadatan mereka (orang Nashrani) kepada mereka (alim ulama dan para rahib)?'' 

Ketika mereka menyandarkan hak hukum dan pembuatan hukum (tasyri') kepada selain 
Allah, maka yang mengaku memiliki hak membuat hukum ini disebut arbab, yaitu yang 
memposisikan dirinya sebagau tuhan pengatur selain Allah. Saat hukum itu digulirkan 
dan diikuti, maka itu adalah arbab yang disembah. Orang yang sepakat di atas hukum 
ini atau yang mengacu atau yang merujuk pada hukum yang mereka gulirkan itu adalah 
orang yang Allah vonis sebagai orang musyrik yang menyembah atau mengibadati atau 
mempertuhankan mereka serta telah melanggar Laa ilaaha illallaah. 

3. Allah Subhanahu Wa Ta 'ala bertirman: 



— . * 



? -fi- 



LgJLJjl Jl Op-jiJ C^f\^\ Jlj J^ ajj3 $p 4UI p! JX Jl U? IjlS U ^j 



CiSyi^j p—^l %J*y»3M0\ jU £-S"aJ.5lit_J 



"Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah 
ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu 
kejasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan (mewahyukan) kepada kawan- 
kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, maka 
sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. " (QS. Al An'am: 
121) 

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta 'ala menjelaskan tentang keharaman bangkai, 
dan Allah juga menjelaskan tentang tipu daya syaitan. Kita mengetahui bahwa bangkai 
adalah haram, namun dalam ajaran orang musyrik Quraisy mereka menyebutnya 
sebagai sembelihan Allah. 

Dalam hadits dengan sanad yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al Hakim 
rahimahullah dari Ibnu 'Abbas radliyallahu 'anhu: Orang musyrikin datang kepada 
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dan berkata: "Hai Muhammad, kambing mati 
siapa yang membunuhnya?", Rasulullah yang mengatakan: "Allah membunuhnya 
(mematikannya)" , kemudian orang-orang musyrik itu mengatakan: "Kambing yang 
kalian sembelih dengan tangan kalian, maka kalian katakan halal, sedangkan 
kambing yang disembelih Allah dengan Tangan-Nya yang Mulia dengan pisau dari 
emas kalian katakan haram, berarti sembelihan kalian lebih baik daripada 
sembelihan Allah. " 

Ini adalah ucapan kaum musyrikin kepada kaum muslimin, dan Allah katakan bahwa itu 
adalah bisikan syaitan terhadap mereka (Dan sesungguhnya syaitan itu membisikkan 
(mewahyukan) kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu) untuk 
mendebat kaum muslimin agar setuju atas penghalalan bangkai, lalu setelah itu Allah 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 13 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

peringatkan kepada kaum muslimin jika menyetujui dan mentaati mereka, 
menyandarkan kewenangan hukum kepada selain Allah meski hanya dalam satu hukum 
atau kasus saja (yaitu penghalalan bangkai) dengan firman-Nya "Maka sesungguhnya 
kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. " 

Dalam ayat di atas Allah Subhanahu Wa Ta'ala menyatakan bahwa: 

1. Hukum yang bukan dari-Nya adalah wahyu syaitan. 

2. Para penggulirnya (yang mengklaim dirinya berhak membuat hukum) dari 
kalangan manusia disebut wali-wali syaitan. 

3. Yang menyetujuinya atau yang taat atau yang merujuk kepadanya disebut 

musyrikun. 

Bila satu hukum saja dipalingkan dalam hak pembuatannya kepada selain Allah, maka 
berdasarkan ayat tadi, bahwa orang yang membuat hukum itu disebut wali-wali syaitan 
(taghut) yang telah mendapat wahyu atau wangsit dari syaitan, sedangkan orang yang 
mentaatinya atau setuju dengan hukum buatan tersebut adalah divonis oleh Allah 
sebagai orang musyrik. 

Sedangkan yang ada di NKRI — dan negara-negara lainnya— adalah bukan satu, dua, 
tiga, sepuluh, atau seratus hukum saja, akan tetapi seluruh hukum yang ada di sini 
adalah bukan dari Allah, tapi dari wali-wali syaitan yang mendapat wahyu dari syaitan 
jin, baik wali-wali syaitan itu dahulunya orang Belanda (yang mewariskan KUHP) 
ataupun wali-wali syaitan zaman sekarang yang duduk di kursi parlemen, yang 
membuat, yang merancang, yang menggodok, atau apapun namanya dan siapa pun yang 
membuat hukum, maka pada hakikatnya mereka adalah wali-wali syaitan dan hukum 
yang mereka gulirkan hakikatnya adalah hukum syaitan. 

Perhatikanlah... jika saja orang-orang yang SEKEDAR mentaati mereka maka Allah 
memvonisnya sebagai orang musyrik, maka apa gerangan dengan para pembuatnya atau 
orang yang memutuskan dengannya atau orang yang memaksa masyarakat untuk 
tunduk kepadanya dengan menggunakan besi dan api (kekuatan dan senjata). . .?! ! 

4. Allah Subhanahu Wa Ta 'ala bertirman: 



*gj! * jSL; jl U ^li! <y> ^l \^ *l§£ p* ft 



"Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu selain Allah yang mensyariatkan untuk 
mereka dalam dien (ajaran/hukum) ini apa yang tidak diizinkan Allah?" (QS. Asy 
Syura:21) 

Dalam ayat tersebut, siapa saja yang membuat syari'at atau hukum atau undang-undang 
atau ajaran yang tidak diizinkan oleh Allah dinamakan syuraka (sekutu-sekutu), karena 
mereka memposisikan dirinya untuk diibadati dengan cara menggulirkan hukum agar 
diikuti. Mereka merampas hak pembuatan hukum dari Allah, mereka merancang, 
menggodok, dan menggulirkannya di tengah masyarakat. Sedangkan orang-orang yang 
mentaati atau mengikuti hukum itu disebut orang yang menyembah syuraka tersebut. 

B. Mereka berhukum dengan selain hukum Allah atau memutuskan dengan 
hukum thaghut 

Mereka berhukum dengan hukum thaghut, karena selain hukum Allah yang ada 
hanyalah hukum jahiliyyah atau hukum thaghut, ini berdasarkan tirman Allah 
Subhanahu Wa Ta 'ala dalam surat Al Maidah: 44: 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 14 ] 



At-Tawhid wal Jihad 



6j#l£il fi dkJjtl 4JJ1 JjjT 0: ^& J ^j 



"Barangsiapa yang ft'Ja& memutuskan dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka 
itulah orang-orang kajir" 

Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala dalam surat Al Maidah: 50 

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih 
baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? " 

Dalam ayat-ayat di atas, orang yang memutuskan dengan selain apa yang Allah 
turunkan adalah orang-orang kafir, sedangkan pemerintah di negeri ini tidak 
memutuskan dengan apa yang Allah turunkan, akan tetapi memutuskan dengan hukum 
thaghut. Maka mereka pun divonis kafir berdasarkan ayat-ayat seperti ini, bahkan Allah 
memvonis orang-orang yang seperti ini sebagai orang-orang zalim dan fasiq dalam surat 
Al Maidah: 45 dan 47. 

Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab rahimahullah menjelaskan dalam Risalah Fie 
Makna Thaghut, tentang Ruusuth Thawaghit (tokoh-tokoh para thaghut) yang ketiga 
yaitu: Yang Memutuskan Dengan Selain Apa Yang Allah Turunkan. 

Jadi pemutus hukum dengan selain apa yang diturunkan Allah adalah bukan sekedar 
thaghut, akan tetapi termasuk pentolan thaghut. Sedangkan iman kepada Allah tidak sah 
kecuali dengan kafir terhadap thaghut, lalu bagaimana mungkin Pemerintah NKRI ini 
dikatakan sebagai pemerintah muslim mukmin, sedangkan mereka bukan sekedar 
thaghut, akan tetapi salah satu tokohnya thaghut... maka mereka bukan hanya sekedar 
kafir, tapi amat sangat kafir! 

C. Mereka merujuk kepada hukum thaghut, baik thaghut lokal, regional maupun 
internasional. 

Disaat menghadapi masalah, masalah apa saja, maka pemerintah ini tidak merujuknya 
kepada hukum Allah, tapi kepada hukum thaghut yang bersifat lokal (seperti Undang 
Undang Dasar atau undang-undang atau yang lainnya), atau hukum-hukum regional, 
atau hukum-hukum yang ditetapkan oleh mahkamah Internasional PBB. 

jf 5jlj 1X0 ^ j/f tfj ld( j/f G: IjliT f4jf 5jli# ji$\ jl y c f\ 

4j IjjiSCj jf \jj») jJj OjPliaJl Jl Ijii^U*^ 

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman 
kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum 
kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah 
mengingkari thaghut itu... " (QS. An Nisa': 60) 

Sungguh, mereka tidak merujuk kepada Al Qur'an atau As Sunnah, akan tetapi merujuk 
kepada selainnya. Sedangkan dalam surat An Nisa: 60 tadi, Allah merasa heran atas 
klaim orang-orang yang mengaku telah beriman kepada Al Qur'an dan kitab-kitab Allah 
sebelumnya, orang-orang yang ketika punya masalah justru ingin berhakim 
(mengadukan urusan) kepada thaghut. Perhatikanlah, dalam ayat tersebut sekedar ingin 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 15 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

berhukum kepada thaghut sudah Allah natikan keimanannya, imannya dianggap 
sekedar klaim dan kebohongan belaka, maka apa gerangan dengan orang-orang yang 
benar-benar bersumpah untuk merujuk kepada hukum thaghut. . .?! 

Pemerintah ini, ketika masuk PBB diwajibkan untuk berikrar setuju atas segala 
peraturan yang digariskannya, begitu juga ketika jajaran pemerintahan dewan legislatit, 
eksekutit, yudikatit terbentuk, setiap orang diwajibkan bersumpah setia untuk 
menjalankan hukum negara, inilah syahadat mereka! inilah bai'at mereka. Apakah di 
Negara ini ada bai'at untuk taat setia kepada Al Qur'an dan As Sunnah ? Tentu 
jawabannya tidak ada ! Maka dari itu setelah bai'at kepada Undang Undang Dasar 
selesai, mereka selalu mengacu kepadanya. Jika seorang Presiden misalnya 
menyimpang, maka DPR/MPR akan memprotesnya dan mengatakan: "Presiden telah 
melanggar Undang Undang Dasar atau undang-undang..." dan tidak akan mengatakan: 
"Presiden telah melanggar Al Qur'an ayat sekian...". Andaikata seluruh isi Al Qur'an 
dilanggar pun, maka mereka tidak akan mempermasalahkannya, asal tidak melanggar 
"kitab hukum suci" mereka, yaitu Undang Undang Dasar 1945 dan undang-undang 
turunannya. 

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang berhakim dengan 
hukum Allah yang telah dihapus adalah katir, beliau menyatakan: "Barangsiapa 
meninggalkan hukum yang muhkam (baku) yang diturunkan kepada Muhammad ibnu 
Abdillah penutup para nabi, dan dia malah merujuk hukum kepada hukum-hukum 
(Allah) yang sudah dihapus, maka dia kafir. Maka apa gerangan dengan orang yang 
mengacu kepada Ilyasa (Yasiq) dan dia mendahulukannya daripada ajaran Allah, maka 
dia katir berdasarkan ijma kaum muslimin" (Al Bidayah Wan Nihayah: 13/119). 

Ilyasa adalah kitab hukum yang dibuat oleh Jenggis Khan raja Tartar. Kitab ini 
merupakan kumpulan yang sebagiannya diambil dari Taurat orang Yahudi, Injil orang 
Nashrani, Al Qur'an dan ajaran ahli bid'ah, ditambah dengan hasil buah tikirannya lalu 
dikoditikasikan menjadi sebuah kitab yang disebut Ilyasa atau Yasiq. Para ulama 
muslimin sepakat mengatakan bahwa siapa saja yang merujuk kepada kitab hukum ini, 
maka dia kafir berdasarkan ijma kaum muslimin. Maka demikian pula dengan Yasiq 
'Ashri (Yasiq Modern), yaitu Undang Undang Dasar, KUHP, dan lain-lain, dimana 
hukum itu diambil dari orang-orang Nashrani (seperti orang Belanda dengan 
KUHPnya), dan ada juga dari Islam seperti dalam masalah pernikahan. 

Jadi ternyata serupa, maka siapa saja yang merujuk pada Yasiq modern ini, maka iapun 
kafir dengan ijma kaum muslimin, sedangkan perujukan-perujukan ini telah dilakukan 
oleh pemerintah NKRI ini. . . ! ! 

D. Mereka menganut sistem Demokrasi 

Demokrasi berasal dari kata demos (rakyat) dan kratos (kedaulatan/kekuasaan). Sistem 
ini merupakan penyerahan hak hukum atau kedaulatan kepada rakyat. Sistem 
perwakilan yang ada di dalamnya memberikan hak ketuhanan kepada wakil rakyat yang 
duduk di parlemen untuk membuat, menetapkan dan memutuskan hukum. 

Demokrasi merupakan salah satu bentuk perampasan hak khusus Allah dalam At Tasyri ' 
(pembuatan, penetapan dan pemutusan hukum atau undang-undang). Hak ini adalah hak 
khusus Allah Subhanahu Wa Ta 'ala, hak khusus rububiyyah dan uluhiyyah Allah, hak 
khusus yang seharusnya disandarkan oleh makhluk hanya kepada Allah. Akan tetapi 
demokrasi merampasnya dan justeru hak itu diberikan kepada makhluk. Allah 
Subhanahu Wa Ta'ala ber/irman: 

Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 16 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

Oj^i^: Sf ^lli! ^M «^Jj pll ^li! dAJi etf! Sf! IjJuiJ Vt >! aJJ Sf! ii&! Jl 

"7/a£ memutuskan hukum itu hanyalah khusus kepunyaan Allah. Dia memerintahkan 
agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah dien yang lurus, tetapi kebanyakan 
manusia tidak mengetahui. " (QS. Yusuf: 40) 

Firman-Nya: "Dia memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia", 
bermakna: Kalian diperintahkan untuk tidak menyandarkan hukum kecuali kepada 
Allah, karena Allah-lah yang berhak untuk membuat, menentukan, dan 
memutuskannya. Dan dalam ayat ini penyandaran hukum kepada Allah disebut ibadah. 
Sedangkan dalam demokrasi; hukum disandarkan kepada rakyat melalui wakil- 
wakilnya, maka demokrasi adalah sistem syirik, karena memalingkan ibadah 
penyandaran hukum kepada selain Allah. 

Demokrasi adalah sistem syirik yang membangun pilar-pilarnya di atas sekularisme, di 
atas kebebasan; bebas meyakini apa saja walaupun pendapat syirik atau kekatiran 
sekalipun. Demokrasi tidak mewajibkan menusia untuk taat kepada ajaran Allah, tapi 
harus taat kepada kesepakatan rakyat, tatanan perundang-undangan yang berlaku, yang 
mana notabene adalah hukum buatan manusia. 

E. Mereka memiliki Idiologi/falsafah/asas/pedoman/petunjuk hidup/nafas bangsa, 
yaitu Pancasila. 

Pancasila adalah dien, karena dien adalah jalan hidup, agama, aturan dan pedoman 
hidup, falsafah atau silahkan orang menyebutnya apa saja... tapi yang jelas Pansacila 
adalah dien. Ini singkat saja kita tinjau. 

Dalam Pancasila dikatakan Ketuhanan Yang Maha Esa, akan tetapi kita tidak tahu siapa 
yang dimaksud, karena Pancasila mengakui berbagai agama dengan tuhan-tuhannya 
masing-masing yang beraneka ragam. Maka cukuplah falsafah ini menjadi sesuatu yang 
rancu bagi orang yang berakal. 

F. Tawalliy (loyalitas penuh) kepada kaum musyrikin 

Mereka loyal kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa, tunduk kepada undang-undang 
internasional dan peraturan lainnya yang ada di dalam tubuh PBB. Apapun yang 
ditetapkannya maka otomatis diikuti. Allah Subhanahu Wa Ta'ala melarang kaum 
muslimin untuk loyal kepada orang-orang kafir, Allah menyatakan dalam surat Al 
Maidah: 51: 






"Siapa saja yang tawalliy di antara kalian terhadap mereka maka sesungguhnya dia 
termasuk golongan mereka. " 

G. Mereka memperolok-olok ajaran Allah. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala melarang segala bentuk kemungkaran, sedangkan 
pemerintahan Negara ini justru memberikan izin bagi beroperasinya tempat-tempat 
kemungkaran -dengan dalih tempat hiburan-, membiarkan berkembangnya media- 
media penebar kesyirikan, kekuturan, kerusakan dan kebejatan -dengan dalih 
kebebasan pers dan kebebasan berekspresi- dan lain-lain. Itu adalah beberapa perolok- 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 17 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

olokan terhadap ajaran Allah, sedangkan memperolok-olok ajaran Allah adalah 
kekatiran. Allah Subhanahu Wa Ta 'ala bertirman: 

H 1« byjisLj ^t^Mjj aJIjTj Jjb! £jj cLjJjj ^j^ l!s"U:1 ^y (UiU jsjj 

*\ *l <J>*^T lajo l^ il> 4jSjU? <L)JJtJ (^Ss^ 4jSjU? ^p ^Jl*-> jj iSoLcl jju iyTii UjJu»J 

"Z)an /z'A:a /tamM tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), 
tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan 
bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul- 
Nya kamu selalu berolok-olok? " . Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kajir 
sesudah beriman. " (QS. At Taubah: 65-66). 

Intinya, jelaslah bahwa Negara dan pemerintahan ini kekatirannya berlipat-lipat. Setiap 
negara yang tidak berhukum dengan hukum Allah dan tidak tunduk pada aturan Allah, 
maka negara tersebut adalah negara kafir, negara dzalim, negara fasiq dan negara 
jahiliyyah berdasarkan firman-firman Allah tersebut. 

Khairul Ghazali menuturkan tafsir ulama tentang thaghut, akan tetapi tidak 
memahaminya dan justeru mencampakkannya dan malah bersikukuh dengan makna 
lughawiy saja sedangkan tafsir para ulama itu sangat jelas bahwa di antara thaghut itu 
adalah penguasa yang membuat hukum dan meninggalkan hukum Allah (Silahkan 
dirujuk ke bukunya di hal. 23-70). Namun dia menganggap penatsiran thaghut yang 
beragam itu sebagai bentuk perselisihan ulama, padahal bukan perselisihan, akan tetapi 
pemberian contoh thaghut yang beraneka ragam bentuknya, yang mana semuanya benar 
dan di antaranya adalah penguasa yang memberlakukan hukum buatan seperti 
pemerintah NKRI ini dimana Khairul Ghazali mati-matian mengkaburkan kekatirannya. 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 18 ] 



At-Tawhid wal Jihad 



Kedua, bantahan terhadap titnah dia terhadap saya 

bahwa saya mengkatirkan semua pns dan 

menganggap semua pns itu sebagai thaghut 



Khairul Ghazali secara dusta dan mengada-ada menuduh saya telah mengkafirkan 
semua PNS dan menganggap mereka semua sebagai thaghut, dimana dia berkata di 
dalam beberapa tempat di bukunya, di antaranya: 

1. Pada halaman 21, dalam catatan kaki dia berkata: "Abu Sulaiman Aman 
Abdurrahman, pelaku tidak pidana terorisme yang divonis 9 tahun, dalam artikelnya 
yang berjudul Hukum Menjadi PNS, mengatakan dasar ditetapkannya pemerintah dan 
PNS sebagai thaghut adalah Sumpah Pegawai Negeri Sipil RI. . ." 

2. Pada halaman 158 s/d 159, dia mengatakan: "Sekarang, gerakan takfir telah 
menggema kembali di tanah air. Beberapa gerakan dakwah yang mengusung 
"radikalisme Islam" telah secara terang-terangan mengatakan bahwa semua PNS telah 
murtad -dengan kata lain, batal keislamannya. Sedangkan semua orang yang bekerja di 
pemerintahan, semua pegawai negeri sipil, termasuk para guru adalah penyembah 
thaghut. Untuk lebih jelasnya statemen ini ada baiknya kita baca terlebih dahulu 
pemikiran salah satu pentolan tokoh radikal, Abu Sulaiman Aman Abdurrahman, dalam 
tulisannya yang berjudul "Pegawai Negeri Sipil Pemerintahan Thaghut." Terus dia 
berkata: "PNS Dianggap Thaghut Oleh Abu Sulaiman Aman Abdurrahman." 

Maka saya katakan: Maha Suci Engkau Ya Allah... sungguh ini adalah dusta dan 
kebohongan Khairul Ghazali terhadap saya, karena pertama, saya tidak pernah 
mengkatirkan seluruh PNS sebagaimana yang dituduhkan oleh Khairul Ghazali, dan 
saya pun tidak pernah menyebut PNS sebagai thaghut dan itu hanyalah rekaan Khairul 
Ghazali saja agar masyarakat antipati dengan dakwah tauhid, juga saya tidak pernah 
membuat tulisan yang berjudul Hukum Menjadi PNS dan tulisan yang berjudul 
"Pegawai Negeri Sipil Pemerintahan Thaghut" tersebut di atas, namun yang saya tulis 
adalah tulisan berjudul Status Bekerja Di Dinas Pemerintah Thaghut dan tulisan 
yang berjudul Rincian Bekerja Di Dinas Pemerintahan Thaghut, sedangkan bila ada 
sebagian orang yang menampilkan tulisan-tulisan tersebut dengan judul yang berbeda 
dengan kedua judul yang saya tulis maka hal tersebut di luar sepengetahuan dan 
tanggung jawab saya. Dan di dalam kedua tulisan saya tersebut tidak ada pengkatiran 
terhadap semua PNS atau menyebutkan bahwa semua PNS adalah thaghut. Bahkan 
Khairul Ghazali sendiri menampilkan tulisan saya yang merinci status pekerjaan di 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 19 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

dinas pemerintahan thaghut ini, di mana di dalamnya ada yang sifatnya pekerjaan yang 
merupakan kekariran, ada juga yang merupakan sifatnya pekerjaan yang haram, dan ada 
juga yang mubah (boleh). Tapi kenapa dia menyimpulkan dengan kesimpulan yang 
sangat jauh dari apa yang telah diuraikan yang mana orang awam sekalipun bisa 
memahami rincian uraian dalam tulisan saya tersebut, namun dia entah karena pesanan 
BNPT atau karena kedunguannya kok tidak bisa memahami apa yang bisa dipahami 
orang awam sekalipun. Untuk supaya lebih jelas dan bisa dipahami sendiri oleh orang 
yang berakal, maka saya tampilkan kedua tulisan saya tersebut ditambah tulisan Syaikh 
Abu Muhammad 'Ashim Al Maqdisiy yang sudah saya terjemahkan perihal Rincian 
Status Bekerja di Dinas Pemerintah Thaghut Saudi. 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 20 ] 



At-Tawhid wal Jihad 



Judul pertama: 

Status Bekerja di Dinas Pemerintahan Thaghut 



Ikhwani fiilah... materi kali ini adalah tentang status orang-orang atau dinas-dinas yang 
ada di pemerintahan thaghut ini. Apakah pekerjaan yang ada di semua dinas-dinas 
thaghut ini pekerjaan-pekerjaanya adalah kekatiran, ataukah ada rincian. . .? 

Dalam masalah ini, ada pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya merupakan kekuturan, ada 
pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya dosa besar, dan ada pula pekerjaan-pekerjaan yang 
sifatnya tidak masuk ke dalam dua kategori ini. Kita akan merincinya dan menyebutkan 
contoh-contohnya. 

I. Pekerjaan yang Bersifat Kekafiran 

Di antara pekerjaan atau dinas yang merupakan kekufuran adalah dinas yang 
mengandung salah salah satu di antara hal-hal berikut ini: 

1. Dinas yang mengandung pembuatan hukum. 

Orang yang membuat hukum atau dia bagian dari lembaga yang membuat hukum, maka 
pekerjaannya dan orang-orang yang tergabung di dalamnya adalah orang-orang kafir. 
Seperti orang-orang yang ada di lembaga legislatif dari kalangan anggota-anggota 
parlemen, karena di antara tugas parlemen itu adalah membuat hukum, maka pekerjaan 
ini adalah merupakan pekerjaan kekufuran dan orangnya adalah orang kafir. Adapun 
dalilnya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta 'ala: 

^ yj& d\ \&\ JLlj c^y>\Li\ jl \yS\~^ 

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman 
kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum 
kamu? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan 
untuk mengingkari thaghut itu. " (QS. An Nisa: 60) 

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta 'ala menyebutkan bahwa orang yang membuat 
hukum yang dirujuk selain Allah disebut thaghut, orang yang merujuk kepada selain 
hukum Allah disebutkan dalam ayat itu bahwa imannya bohong dan hanya klaim, dan 
yang dirujuk tersebut, yaitu si pembuat hukum ini yang Allah katakan sebagai thaghut - 
maka seperti yang telah kita ketahui- adalah lebih kafir daripada orang kafir 'biasa'. 

Dan firman Allah Subhanahu Wa Ta 'ala dalam surat yang lain: 

14 \/&d % \ } >J\ Uj f,y <J>\ ^Jlj aJlJI d/> J> llSjt f4Jl^jj (Ujl^-t \^ 

bjtj4 Hp 4jU4^ j£ % i\ y Lb-ij 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [21] 



At-Tawhid wal Jihad 

"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai 
arbab (tuhan-tuhan) selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera 
Maryam, Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali mereka hanya menyembah 
Tuhan Yang Esa, tidak ada ilah (Tuhan yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci 
Allah dari apa yang mereka persekutukan. " (QS. At Taubah: 31). 

Dalam ayat ini Allah memvonis orang Nashrani dengan lima vonis: 

1 . Mereka telah mempertuhankan para alim ulama dan para rahib 

2. Mereka telah beribadah kepada selain Allah, yaitu kepada alim ulama dan para rahib 

3. Mereka telah melanggar Laa ilaaha illallaah 

4. Mereka telah menjadi musyrik 

5. Para alim ulama dan para rahib itu telah memposisikan dirinya sebagi arbab. 

Imam At Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan, bahwa ketika ayat ini dibacakan oleh 
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam di hadapan 'Adiy ibnu Hatim (seorang shahabat 
yang asalnya Nashrani kemudian masuk Islam), 'Adiy ibnu Hatim mendengar ayat-ayat 
ini dengan vonis-vonis tadi, maka 'Adiy mengatakan: "Kami (orang-orang Nashrani) 
tidak pernah shalat atau sujud kepada alim ulama dan rahib (pendeta) kami", Jadi 
maksudnya dalam benak orang-orang Nashrani adalah; kenapa Allah memvonis kami 
telah mempertuhankan mereka, atau apa bentuk penyekutuan atau penuhanan yang telah 
kami lakukan sehingga kami disebut telah beribadah kepada mereka padahal kami tidak 
pernah shalat atau sujud atau memohon-mohon kepada mereka? Maka Rasul 
mengatakan: "Bukankah mereka (alim ulama dan para rahib) menghalalkan apa 
yang Allah haramkan terus kalian ikut menghalalkannya, dan bukankah mereka 
telah mengharamkan apa yang Allah halalkan terus kalian ikut 
mengharamkannya?" Lalu 'Adiy menjawab: "Ya", Rasul berkata lagi: u Itulah bentuk 
peribadatan mereka (orang Nashrani) kepada mereka (alim ulama dan para rahib)?'' 

Jadi bentuk peribadatan di sini adalah ketika alim ulama itu membuat hukum di 
samping hukum Allah, kemudian hukum tersebut diikuti dan ditaati oleh para 
pengikutnya, maka si alim ulama atau pendeta tersebut Allah Subhanahu Wa Ta 'ala cap 
mereka sebagai Arbab atau sebagai orang yang memposisikan dirinya sebagai tuhan 
selain Allah, sedangkan orang yang memposisikan dirinya sebagi pembuat hukum atau 
sebagai tuhan selain Allah, maka dia itu adalah orang kafir. Maka berarti pekerjaan ini 
adalah pekerjaan kekatiran. 

Dan dalil yang lain adalah tirman Allah Subhanahu Wa Ta 'ala: 



<LJ! <u jilj 1 \j> jjJlSI ,v *2> Ij^ji s-l^i XX °A 



"Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu yang menetapkan bagi mereka dari dien 
(hukum/ajaran) ini apayang tidakAllah izinkan. " (QS. Asy Syuura: 21) 

Dalam ayat ini Allah mencap para pembuat hukum selain Allah sebagai 
syuraka (sekutu-sekutu) yang diangkat oleh para pendukungnya sebagai sekutu 
Allah Subhanahu Wa Ta 'ala, sedangkan orang yang memposisikan dirinya sebagai 
sekutu bagi Allah adalah orang kafir. 

Ini adalah pekerjaan pertama yang merupakan kekatiran; yaitu orang yang pekerjaannya 
adalah membuat hukum atau menggulirkan atau menggodok undang-undang, seperti 
para anggota dewan perwakilan dan yang serupa dengannya atau apapun namanya. 

2. Pekerjaan yang tugasnya bersifat pemutusan dengan selain hukum Allah. 

Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 22 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

Orang yang pekerjaannya adalah memvonis dan menuntut dengan selain hukum Allah, 
seperti para jaksa dan hakim. Mereka menuntut dan memutuskan di persidangan, si 
jaksa yang menuntut dan si hakim yang memutuskan, sedangkan kedua-duanya adalah 
memutuskan dengan selain hukum Allah. 

Pekerjaan semacam ini, pemutusan dengan selain hukum Allah ini merupakan pekerjaan 
kekafiran dan orangnya telah Allah cap secara tegas dan jelas sebagai orang katir, 
zhalim, dan fasiq dalam satu surat: 



6jjii£ji fi dkJjtl iJJi JjjT ^ jj^ J ^j 



" '. . .Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka 
mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (QS. Al Maidah: 44) 



5yj4i! L* lUJjll iJJl jjjt U J^ °1 c?3 



". . .Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka 
mereka itu adalah orang-orang yang zalim." (QS. Al Maidah: 45) 



6ji-l*Jl fi IbJjtl ill! jjit £ J^ ! ^j 



"Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka 
mereka itu adalah orang-orang yangfasik. " (QS. Al Maidah: 47) 

Sedangkan kita mengetahui bahwa para hakim dan para jaksa ketika memutuskan atau 
ketika menuntut mereka memutuskan dan menuntutnya dengan selain hukum Allah, 
yaitu dengan hukum jahiliyyah (hukum thaghut), maka pekerjaannya adalah pekerjaan 
kekafiran. 

3. Pekerjaan yang bersifat nushrah (pembelaan/perlindungan) bagi sistem thaghut 

Ini adalah sebagaimana yang sudah dijabarkan dalan materi Anshar Thaghut, seperti; 
tentara, polisi, atau badan-badan intilejen. Maka dzat dari pekerjaan ini adalah kekafiran 
karena mereka memberikan nushrah terhadap thaghutnya dan terhadap sistemnya itu 
sendiri, maka berarti ini pekerjaan kekatiran dan orangnya adalah sebagai orang kafir, 
sebagaimana yang Allah katakan dalam firman-Nya: 

«.l-Jjl jJjlli O^pUaJl L^ (J JjJJUj Ijyii ^jjJJlj aJJ! J^ (J OjJjUj \yj>\ (JjJu! 

jikiji 

"Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir 
berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan (wali-wali) syaitan 
*Yw."(QS.AnNisa:76) 

Allah Subhanahu Wa Ta 'ala mencap mereka sebagai orang kafir karena mereka 
berperang di jalan thaghut. Dan dalam surat yang lain Allah mengatakan: 

^>i i£ y£xli jit it \£g <j&\ ^iij^ OjJji; IjiiU' <j,&\ J! ) p 

jjolSO *-gJl -t^-io <JJU LSsJj ^2 ; ; I iiuji jU iJjl lJL^-1 *5s*s A^j jj XS^ju» (Ir^r^^^ 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 23 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada 
saudara-saudara mereka yang kajir di antara ahli kitab: "Sesungguhnya jika kamu 
diusir niscaya kamipun akan keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan 
patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, danjika kamu diperangi pasti kami 
akan membantu kamu. " Dan Allah bersaksi bahwa sesungguhnya mereka benar-benar 
pendusta. " (QS. Al Hasyr: 11) 

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta 'ala menetapkan ukhuwah kujriyyah antara 
orang munafiq dengan orang-orang Yahudi, padahal kita tahu bahwa orang munafiq 
dihukumi secara dunia sebagai orang muslim, akan tetapi ketika dia menampakkan 
kekafiran dengan cara membantu orang-orang Yahudi, maka Dia memvonis kafir 
mereka. Orang munafiq dalam ayat ini dihukumi kafir karena berjanji akan 
membantu orang Yahudi dalam memerangi Rasulullah, padahal janji mereka di hadapan 
orang Yahudi itu bohong, akan tetapi Allah menwonis mereka sebagai orang kafir 
karena menjanjikan akan melakukan kekafiran, yaitu membela orang Yahudi dalam 
memerangi Rasulullahs/za/a//a/2M 'alaihi wa sallam. Begitu juga orang yang berjanji 
untuk melakukan kekatiran tapi janjinya bohong, maka tetap dia itu sebagai orang kafir. 

Ini adalah dalil, bahwa membantu orang kafir di atas kekatiran adalah merupakan 
kekafiran dan orangnya adalah orang kafir. Oleh karena itu dinas yang bersitat 
pembelaan dan perlindungan bagi sistem thaghut merupakan dinas kekafiran dan 
pekerjaannya itu adalah pekerjaan yang membuat kafir pelakunya. 

4. Setiap pekerjaan yang bersifat tawalliy kepada hukum thaghut. 

Orang yang dzat pekerjaannya tawalliy (mencurahkan loyalitas) kepada sistem thaghut, 
yaitu melaksanakan hukum-hukum thaghut secara langsung, seperti aparat thaghut yang 
bekerja di departemen kehakiman, dinas mereka langsung tawalliy kepada hukum 
thaghut. Dinas seperti ini adalah dinas kekatiran. 

Dan dinas yang seperti ini juga adalah kejaksaan. Atau orang bekerja di sekretariat 
gedung DPR/MPR, dimana dia yang mengatur program-program atau berbagai acara 
rapat atau sidang mejelis thaghut ini. Dia tawalliy penuh kepada sistem ini karena 
kegiatan-kegiatan angota DPR/MPR tidak akan terlaksana tanpa ada pengaturan dari 
mereka. Allah Subhanahu Wa Ta 'ala bertirman: 

Li (Ji^lj fa Jj-^ OLkliJl (JJ&\ Li £juj ^ <&> (V (*-*;^> (J^ !>^ tji^ ^i 

Lk)\^\ pj6 iiij j§\ jak, j l&j&m &\ jjj u \jijr ^joj \jti l£\ && y o 

n 

" Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (murtad) sesudah petunjuk itu 
jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan 
memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka 
(orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang 
diturunkan Allah: "Kami akan mematuhi kamu dalam sebagian urusan", sedang Allah 
mengetahui rahasia mereka. " (QS. Muhammad: 25-26). 

Orang yang mengatakan kepada orang kafir atau thaghut "kami akan mentaati kalian 
dalam sebagian urusan kekafiran" telah Allah vonis kafir, sedangkan orang-orang yang 
tawalliy tadi, ternyata mereka justru mengikuti sepenuhnya kekatiran ini, mengikuti 
thaghut sepenuhnya dalam melaksanakan hukum-hukum kekatiran (hukum thaghut). 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 24 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

5. Orang yang bersumpah untuk loyal kepada thaghut (sistem/hukum/undang- 
undang) 

Setiap orang yang bersumpah untuk loyal kepada undang-undang, apapun dinasnya, 
walaupun dia bekerja di dinas pendidikan umpamanya, atau dinas pertanian, atau dinas 
perhutanan, akan tetapi jika dia bersumpah untuk loyal kepada undang-undang atau 
kepada sistem thaghut, maka apapun bentuk pekerjaannya jika dia melakukan sumpah, 
maka dia kafir dengan sebab sumpahnya, bukan dengan sebab pekerjaannya. 

Ini berbeda dengan dengan jenis pekerjaan yang sebelumnya, di mana yang 
menyebabkan kekafiran adalah dzat pekerjaannya, seperti anggota MPR/DPR, baik dia 
disumpah ataupun tidak maka dia tetap kafir, begitu juga hakim, jaksa, tentara, polisi, 
baik mereka bersumpah ataupun tidak, maka mereka tetap orang kafir. 

Sedangkan di sini, orang menjadi kafir bukan dengan sebab dari sisi pekerjaannya, tapi 
dari sisi sumpahnya, apapun bentuk dinasnya selama ada sumpah untuk loyal kepada 
hukum thaghut maka dia kafir. Jika saja Allah menwonis murtad orang yang 
menyatakan akan taat, setia dan akan mengikuti hanya dalam sebagian kekafiran, maka 
apa gerangan dengan orang yang menyatakan dalam sumpahnya; kami akan setia dan 
taat sepenuhnya kepada Undang Undang Dasar atau Pancasila atau kepada Negara Kafir 
Republik Indonesia...?! ini lebih kafir daripada orang yang Allah vonis murtad dalam 
surat Muhammad tadi. Jika saja mengikuti sebagiannya saja Allah vonis murtad, maka 
apa gerangan dengan orang yang mengatakan akan setia dan mengikuti 
sepenuhnya...?!! 

Ini adalah di antara pekerjaan-pekerjaan atau dinas-dinas yang Allah vonis kafir 
pelakunya, dan pekerjaan ini merupakan pekerjaan kekafiran di dinas thaghut tadi. 

II. Pekerjaan yang Bersifat Keharaman 

Jika pekerjaan selainnya yang tidak ada kelima unsur tadi; tidak ada pembuatan 
hukum, tidak ada pemutusan dengan selain hukum Allah, tidak ada pembelaan atau 
tidak ada tawalliy, tidak ada janji setia kepada hukum thaghut, maka dinas-dinas yang 
tidak ada kelima unsur tadi harus dilihat apakah dinas tersebut dinas kezhaliman yang 
merupakan keharaman ataukah bukan (dinas yang mubah). 

Apabila dinas tersebut adalah dinas keharaman lalu tidak ada lima hal tadi, seperti di 
perpajakan atau bea cukai atau keimigrasian yang merupakan kezhaliman, atau di bank- 
bank riba, maka ini adalah pekerjaan-pekerjaan yang haram. Ini bukan pekerjaan 
kekafiran kecuali kalau ada sumpah. 

Orang yang bekerja sebagai PNS di bea cukai, dzat pekerjaannya adalah haram karena 
kezhaliman, dan jika ada sumpah maka dia kafir dari sisi sumpahnya, jika tidak ada 
sumpah, maka pekerjaannya itu adalah pekerjaannya saja yang haram. 

III. Pekerjaan yang Mubah 

Seandainya tidak ada kelima hal tadi, terus pekerjaannya juga bukan pekerjaan yang 
haram, maka itu adalah pekerjaan yang mubah (yang boleh-boleh saja) seperti di dinas 
kesehatan, di pertanian, di kelautan, atau dinas-dinas yang bukan merupakan kekufuran 
dan bukan merupakan keharaman. 

Para ulama mengatakan bahwa jika dinas tersebut milik thaghut maka minimal 
hukumnya makruh, tidak dikatakan mubah karena minimal dia dekat dengan 
thaghut. Hukumnya makruh tapi dengan syarat dia tetap menampakkan keyakinannya. 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 25 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

Dalil dalam hal itu adalah hadits yang diriwayatkan Al Bukhari dalam Shahih-nya 
pada Kitab Al Ijarah bab: "Apakah seseorang boleh mengupahkan dirinya bekerja pada 
orang musyrik di negeri harbiy": Dari Khabab radliyallahu 'anhu, berkata: "Saya 
adalah pandai besi, kemudian saya bekerja untuk Al 'Ash Ibnu Wail, sehingga 
terkumpul hak upah saya di sisinya, kemudian saya mendatanginya untuk meminta 
upah itu darinya", maka ia (Al 'Ash ibnu Wail) berkata: "Tidak, demi Allah. Saya tidak 
akan membayar upahmu sampai kamu kajir kepada Muhammad!", maka saya 
berkata: "Demi Allah, tidak akan saya lakukan sampai kamu mati kemudian 
dibangkitkan sekalipun ", ia berkata: "Apa saya akan mati kemudian dibangkitkan ? ", 
saya berkata: "Ya !", dan ia berkata: "Ya, berarti di sana saya akan memiliki harta dan 
anak, kamudian saya akan membayar upahmu. " 

Di sini Khabab menampakkan keyakinannya. Jadi dalam dinas-dinas seperti kesehatan 
dan yang lainnya yang sitatnya mubah-mubah saja dengan syarat tetap menampakkan 
keyakinan di tengah mereka, karena jika tidak menampakkan, maka ia berdosa karena 
dia meninggalkan hal yang wajib yaitu izhharuddin hanya karena mencari pekerjaan 
yang bersitat dunia ini. Akan tetapi jika seandainya dinas-dinas yang mubah ini di 
dalamnya ada sumpahnya, maka dia kafir karena sebab sumpahnya bukan karena dzat 
pekerjaannya. 

Dan yang harus dikertahui juga adalah jika dia bekerja di dinas-dinas yang mubah tadi 
lalu dia sebelumnya bersumpah, maka dia kafir karena sumpahnya, karena secara 
hukum thaghut ketika diangkat menjadi PNS, maka dia diambil sumpahnya sesuai 
dengan undang-undang yang berlaku di dinas kepegawaian yaitu bahwa semua PNS di 
Indonesia ini harus bersumpah ikrar setia . 

Berdasarkan hukum thaghut, PNS harus disumpah, akan tetapi antara disumpah atau 
tidak dalam praktiknya, maka itu urusan dia dengan dengan Allah, jika kita tidak 
tahu apakah dia itu mengikrarkan sumpah atau tidak, maka dia tidak bisa dikatirkan, 
karena dzat pekerjaannya bukan pekerjaan kekuturan, kecuali bila kita mendengar saksi 
dari dua orang laki-laki muslim yang adil atau pengakuan dari dia langsung, maka kita 
nasihati agar dia berlepas diri dari sumpahnya. 

Ini berbeda dengan tentara atau polisi atau aparat lainnya dimana kita bisa langsung 
mengkatirkan mereka, juga seperti anggota MPR/DPR karena dzat pekerjaannya 
merupakan kekatiran, kita tidak bisa menghukuminya sebagai orang muslim sampai dia 
keluar dari pekerjannya dan melepaskan segala atribut pekerjaannya. 

Jika orang bekerja di dinas-dinas keharaman atau yang mubah tadi, lalu dia pernah 
bersumpah dan setelah kita nasihati, lalu dia menyatakan keberlepasan diri dari 



3 Seperti yang ada pada Sumpah Pegawai Negeri Sipil RI, berdasarkan Peraturan Pemerintah No.21 
Tahun 1975 pasal 6 yang berbunyi: 

Demi Allah, Saya Bersumpah: 

Bahwa saya untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil akan setia dan taat sepenuhnya kepada 

Pancasila, Undang Undang Dasar 1945, Negara dan Pemerintah; 

Bahwa saya, akan mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas 

kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab; 

Bahwa saya akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan Negara, Pemerintah, dan martabat Pegawai 

Negeri serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri, 

seseorang atau golongan; 

Bahwa saya akan memegang rahasia sesuatu menurut sitatnya atau menurut perintah saya harus 

merahasiakan; 

Bahwa saya akan bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan Negara 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 26 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

sumpahnya, dia bertaubat dari sumpah kekuturannya, dia ikrarkan dua kalimah 
syahadat, maka dia dihukumi sebagai orang muslim, walaupun dia tidak keluar daripada 
kedinasannya, karena kekatirannya disebabkan oleh sumpahnya, bukan karena 
dinasnya. 

Jadi, di sini dibedakan antara kekatiran yang disebabkan oleh dzat pekerjaannya dengan 
kekatiran yang diakibatkan oleh sumpah untuk setia dan loyal kepada thaghut. 

Dalam realita masyarakat banyak terdapat PNS, tetapi kita tidak mengetahui secara 
individu dari mereka apakah si fulan ini sumpah ataukah tidak, maka kita tidak bisa 
mengkafirkannya meskipun pada hakikat sebenarnya dia itu telah bersumpah, karena 
yang mengetahui dia mengikrarkan sumpah atau tidak hanyalah Allah, sedangkan kita 
tidak tahu. Bila kita melihat dzat pekerjaannya bukan kekufuran, maka dia tidak boleh 
dikafirkan, karena kita menghukumi secara zhahir sedangkan urusan bathin maka itu 
urusan Allah. 

Kemudian, bagi orang yang telah bekerja di dinas kekafiran akan tetapi dia sudah 
pensiun atau sudah berhenti dari pekerjaannya, baik berhentinya karena dipecat atau 
karena mengundurkan diri atau karena selesai masa jabatannya, maka bagi orang-orang 
semacam ini; maka selama dia menampakkan keislaman, lalu tidak muncul dari sikap 
atau dari ucapan dia hal-hal yang menunjukkan bahwa dia itu masih menginginkan 
perbuatannya itu atau masih membanggakannya atau membolehkannya atau 
menganjurkan agar orang masuk ke dalamnya, maka orang seperti itu kita hukumi 
secara dunia dia itu muslim, sedangkan masalah bathinnya itu urusan dia dengan 
Allah Subhanahu Wa Ta 'ala. 

Demikianlah bagaimana menyikapi orang-orang semacam itu, karena ketika kita 
mengkafirkan orang-orang yang bekerja di dinas-dinas kekafiran adalah karena 
pekerjaannya, jika dia sudah berhenti dan meninggalkan pekerjaannya apapun faktor 
yang membuat dia berhenti, maka apabila tidak muncul dari ucapannya atau 
perbuatannya hal-hal yang menunjukan bahwa dia masih menginginkannya atau 
membanggakannya dan dia menampakkan keislaman, maka dia dihukumi muslim 
kembali secara hukum dunia, adapun masalah bathinnya maka perhitungannya itu di sisi 
Allah. Ini sebagaimana dalam hadits dari Imam Muslim yang diriwayatkan dari Abu 
Malik Al Asyja'iy: "Barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah dan dia kajir 
terhadap segala sesuatu yang diibadati selain Allah, maka haramlah darah dan 
hartanya, sedangkan perhitungannya atas Allah Ta 'ald\ karena kadar minimal adalah 
meninggalkannya. 

Ini adalah materi tentang status pekerjaan-pekerjaan yang ada di dinas-dinas 
pemerintahan thaghut ini. Yang mana di antaranya ada pekerjaan-pekerjaan yang 
sifatnya merupakan kekufuran, dan ada pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya dosa besar, 
dan ada pekerjaan yang sifatnya tidak masuk ke dalam dua kategori ini atau pekerjaan 
ini bersifat mubah. 

Dan terakhir, ketika para shahabat memperlakukan keluarga atau anak isteri anshar 
thaghut, seperti kelompok Musailamah Al Kadzdzab adalah sebagai orang kafir. 
Mungkin ada pertanyaan kenapa kita sekarang tidak memperlakukan anak isteri anshar 
thaghut ini sebagai orang kafir...?. Ini karena bahwa anak isteri anshar thaghut bisa 
dikatakan kafir bila dalam konteks muwajahah (konfrontasi) antara kelompok Islam 
dengan kelompok kafir, itu juga dengan dua syarat: Pertama, kaum muslimin memiliki 
kekuatan dan mendominasi penuh terhadap orang kafir tersebut. Kedua, ada 
kemungkinan untuk bergabung kepada kelompok Islam tersebut. 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 27 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

Dikarenakan pada waktu itu kekuatan kaum muslimin sangat mendominasi, maka 
seandainya mereka (keluarga anshar thaghut) mau membelot, mereka bisa bergabung 
dengan kaum muslimin, dan ketika mereka tidak melakukannya di mana waktu itu 
dalam konteks sedang muwajahah, maka mereka dihukumi kafir murtad. Sebagaimana 
Rasulullah sebelumnya saat Futuh Mekkah, maka orang yang ada di kota Mekkah 
semuanya diperlakukan sebagai orang kafir. Saat itu kekuatan kaum muslimin berada di 
atas kekuatan orang kafir, dan orang yang mengaku muslim yang ada di tengah mereka 
bisa bergabung dengan kaum muslimin jika mau. Dan ketika tidak bergabung maka 
dihukumi kafir oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. 

Berbeda halnya jika dua syarat ini atau salah satu dari syarat ini tidak terpenuhi seperti 
saat sekarang ini dimana kaum muslimin tidak memiliki kekuatan dan tidak memiliki 
dominasi, maka dari itu kita tidak mengkatirkan anak isteri anshar tahghut, dan ini 
seperti isteri Fir'aun, dimana Allah mengatakan tentangnya dalam surat At 
Tahrim bahwa isteri Fir'aun adalah seorang mu'minah. Kenapa mu'minah? Kenapa 
tidak dihukumi seperti isteri Musailamah umpamanya? Karena kaum muslimin pada 
saat itu (yang dipimpin Nabi Musa) tidak memiliki dar (wilayah) dan tidak 
mendominasi kekuatannya sehingga ia tidak bisa membelot atau bergabung dengan 
kaum Nabi Musa. 

Jadi jika dua syarat ini tidak terpenuhi, maka kita memperlakukan orang yang 
menampakkan keislaman di tengah orang-orang kafir sebagai orang muslim. Orang 
muslim dimana saja adalah orang muslim, baik itu di darul harbiy ataupun di darul 
Islam. 

Alhamdulillaahirrabbil'aalamiin... 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 28 ] 



At-Tawhid wal Jihad 



Judul kedua: 

RINCIAN BEKERJA Dl DINAS PEMERINTAHAN THAGHUT 



Sesungguhnya bekerja di dinas milik pemerintahan thaghut adalah ada rincian 
sebagaimana berikut ini: 

<1>. Setiap pekerjaan yang merupakan pembuatan hukum, pemutusan dengan hukum 
buatan, pembelaan kepada thaghut atau sistemnya, mengikuti atau menyetujui sistem 
thaghut, ada syarat sumpah atau janji setia kepada thaghut atau sistemnya, maka semua 
ini adalah KEKAFIRAN. 



A. PEKERJAAN YANG MERUPAKAN PEMBUATAN HUKUM 

Pembuatan hukum adalah hak khusus Rububiyyah Alllah Ta 'ala karena Dia adalah 
yang menciptakan maka hanya Dia-lah dzat yang berhak menentukan hukum bagi 
ciptaan-Nya, Dia Ta 'ala bertirman: 



$% ^bu ti Y\ 



"Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. . ." (QS. Al A'raf: 54) 



aJLJ VJ j^M 01 



"Menetapkan hukum itu hanya hakAllah..." (QS. Al An'am: 57) 

\ I I. Vi« \ ''A a\ \ I >' 



Sl|J VJ IjJ&J VI >f aJU VJ £&M OJ 



"Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak 
menyembah selain Dia. . ." (QS. Yusuf: 40) 



Jj ^i iii! oj 



"Menetapkan hukum itu hanya hakAllah... " (QS. Yusuf: 67) 

Allah 7a 'a/a tidak menyertakan satu makhluk pun di dalam hak khusus pembuatan 
hukum ini baik itu malaikat ataupun para nabi, karena hanya Dia-lah dzat yang 
menciptakan: 

"Dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan 
hukum" (QS. Al Kahfi: 26) 

Dan di dalam qira-ah Ibnu Amir yang mutawatir dibaca: 

fj^-f ^io- j ^jjij Sfj 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 29 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

"Danjanganlah kamu mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan 
hukum."(QS.A\Kahfi:26) 

dijj nA djtj^ li* jujj Jd! ou4^ ijM i£t)\?\* jii% iUL; u $% J^jj 
aJj s^ij jjVi i) joi-i aJ ji vi aIi V iii jij n <\ OjIiAJ uj ^jjl^ ££j u pJu 

"Z)a« Rabbmu menciptakan apa yang dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak 
ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka 
persekutukan (dengan Dia). Dan Tuhan mu mengetahui apa yang disembunyikan 
(dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan. Dan Dia-lah Allah, tidak ada 
Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nya lah Segala Puji di dunia dan 
di akhirat, dan bagi-Nya lah Segala Penentuan Hukum dan hanya kepada-Nya lah 
kamu dikembalikan. " (QS. Al Qashash: 68-70) 

hy&-°) ^13 fi&! iS 

"Dan bagi-Nya lah segala penetuan hukum dan hanya kepada-Nya lah kamu 
dikembalikan. " (QS. Al Qashash: 88) 

Serta ayat-ayat muhkamat lainnya yang menjelaskan bahwa penentuan hukum baik 
hukum kauniy mapun hukum syar'i adalah hak khusus Allah ta'ala yang bila 
sebagiannya disandarkan atau dipalingkan kepada selain-Nya maka itu berarti bentuk 
penyekutuan terhadap-Nya, bentuk pengangkatan tuhan selain-Nya dan bentuk 
pengangkatan tandingan bagi-Nya, sedangkan itu adalah kekafiran. 

j^J^AJ *j£.y> Ij^lT jjiJ! £ 

"Namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan 
Tuhan mereka" (QS. Al An'am: 1) 

Bila orang yang menyandarkan hak tersebut kepada selain Allah Ta 'ala adalah divonis 
MUSYRIK lagi KAFIR, maka bagaimana halnya dengan orang yang mengakui hak 
pembuatan hukum itu ada pada dirinya atau kelompoknya atau lembaganya, maka tidak 
ragu lagi bahwa orang semacam ini lebih KAFIR LAGI karena mengakui dirinya tuhan, 
walaupun dia tidak membuat hukum, sebagaimana yang diklaim oleh lembaga-lembaga 
legislatif dengan semua tingkatannya dan para anggota di dalamnya yang diberi 
kewenangan pembuatan UUD atau UU seperti yang tertuang di dalam UUD 1945. 

ij^Jlk)! (jJsL dJJASjU^- 4jj^4 dJJjJ 4jji J* aJ! ,3| j^j^ lyi Cj*3 

"Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan: "sesungguhnya aku adalah tuhan 
selain daripada Allah ", maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian 
Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim. " (QS. Al Anbiya: 29) 

Kami adalah para anggota legislatif yang berwenang membuat UU makna artinya kami 
adalah tuhan-tuhan selain Allah. Orang-orang semacam ini lebih KAFIR daripada para 
nabi palsu seperti Musailamah Al Kadzdzab dan yang lainnya. 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 30 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

Para pembuat hukum dan UU itu telah divonis dengan berbagai vonis yaitu: arbab, wali- 
wali syaitan, sekutu-sekutu yang disembah, thaghut dan aulia (pemimpin-pemimpin) 
kesesatan, serta orang-orang bodoh. 

5j5^„ lip 4jU4^ ji fy 4 S/ ta-ij 

"Mereka menjadikan orang-orang 'alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai arbab 
(tuhan-tuhan) selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera 
Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada 
Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka 
persekutukan" (QS. At Taubah: 31) 

Bentuk pentuhanan diri yang dilakukan 'alim 'ulama dan para rahib di sini adalah 
pembuatan hukum yang mereka lakukan, dimana RasulullahS'Aa//a//a/zw 'Alaih Wa 
Sallam berkata dalam hadits hasan perihal tatsir ayat ini kepada Adiy ibnu 
Hatim radliyallahu 'anhu "Bukankah mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan 
kemudian kalian (ikut) menghalalkannya, dan mereka mengharamkan apa yang Allah 
halalkan kemudian kalian (ikut) mengharamkannya? " Adiy menjawab: "Ya", maka 
Rasulullah Shallallahu Alaih Wa Sallam berkata: "Maka itulah peribadatan kepada 
mereka. " 

Dan itu adalah yang dilakukan para legislatit dan pejabat tertentu yang diberikan 
kewenangan pembuatan hukum dan UU. Jadi setiap person para anggota legislatit 
adalah MUSYRIK KAFIR lagi dipertuhankan selain Allah ta'ala, dan MURTAD bila 
asalnya muslim dan bila mengatasnamakan ajaran maka dia itu orang yang mengada- 
ada kebohongan terhadap Allah ta'ala. 

"Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan 
terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya? 
Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang kajir? " (QS. Al 
'Ankabut:68) 

Mereka juga divonis sebagai wali-wali syaithan, sebagaimana firman Allahto 'ala: 



"Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah 
ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah kefasiqan. 
Sesungguhnya syaithan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar membantah 
kamu dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang- 
orang yang musyrik. " (QS. Al An'am: 121) 

Ayat ini di antaranya berkaitan dengan perdebatan anatara Aulia Ar Rahman dengan 
Aulia Asy Syaithan (katirin Quraisy), dimana orang-orang katir menghalalkan bangkai 
dan mendebat kaum muslimin agar ikut menghalalkannya, Al Hakim meriwayatkan 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [31] 



At-Tawhid wal Jihad 

dengan sanad yang shahih dari Ibnu 'Abbas radliyallahu 'anhuma bahwa mereka 
berkata: "Apa yang disembelih Allah maka kalian tidak memakannya, sedang yang 
kalian sembelih maka kalian memakananya; maka Alllah menurunkan... Sesungguhnya 
syaithan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar membantah kamu... " Di sini 
hanya satu hukum saja yaitu penghalalan bangkai, namun Allah ta 'ala menwonis orang 
yang menurutinya sebagai orang musyrik, dan pembuatnya sebagai wali (kawan) 
syaithan, dan hukum itu sebagai wahyu (bisikan) syaithan. 

Sedangkan yang dilakukan para anggota legislatit adalah lebih dari itu; penghalalan 
(pembolehan atau peniadaan sangsi) yang haram, pengharaman (penetapan sebagai 
kejahatan dan tindak pidana atau penetapan sangsi) hal yang halal, dan pembuatan 
ketentuan-ketentuan yang menyelisihi syari'at Allah to 'ala, maka mereka itu adalah 
wali-wali syaithan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: "Orang 
dikala menghalalkan suatu yang haram yang telah diijma'kan atau mengharamkan suatu 
yang halal yang sudah diijma'kan atau mengganti aturan yang sudah diijma'kan, maka 
dia itu katir lagi murtad dengan kesepakatan para fuqaha." (Majmu Al Fatawa) 

Mereka juga adalah syuraka (sekutu-sekutu) yang disembah selain Allah sebagaimana 
firman Nya ta 'ala: 



aDI <u jilj 1 U jiJii! <y> J% \yy$> *IS^£ *S> f\ 



"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari' atkan 
untuk mereka dien yang tidak diijinkan Allah. " (QS. Asy Syura: 21) 

Sedangkan di antara makna Dien adalah hukum atau UU, sebagaimana tirman 
Nya ta 'ala: 

diUJ! ji? j flU*t jjth b\t U 

"Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut dien (UU) raja" (QS. Yusuf: 
76) 

Jadi para pembuat hukum atau UU itu adalah yang disembah selain Allah ta 'ala dengan 
ketaatan para aparat penegak hukum kepada hukum buatan mereka itu u ...dan jika 
kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang 
musyrik... " (QS. Al An'am: 121) "...mereka menjadikan orang-orang alimnya dan 
rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah... " (QS. At Taubah: 31) berikut 
tafsir hadits bahwa ibadah di ayat ini adalah ketaatan kepada hukum buatan mereka, 
sedangkan ketaatan atau kekomitmenan merujuk kepada hukum selain Allah ta 'ala 
adalah ibadah kepada si pembuat hukum itu. 

Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithiy rahimahullah berkata: "Bahwa setiap 
orang yang itiba ' (mengikuti) aturan, UU dan hukum yang menyelisihi apa yang Allah 
ta'ala syari'atkan lewat lisan rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam maka dia itu 
musyrik kepada Allah, kafir lagi menjadikan yang diikutinya itu sebagai 
tuhan." (Risalah Al Hakimiyah Fi Tafsir Adlwail Bayan), dan beliau berkata 
juga: "Penyekutuan di dalam hukum adalah sama seperti penyekutuan di dalam ibadah." 

Syaikh Hamd Ibnu 'Atiq rahimahullah berkata: "Ulama telah ijma' bahwa barang siapa 
memalingkan sesuatu dari dua macam doa kepada selain Allah maka dia itu musyrik 
meskipun mengucapkan laa ilaaha illallah, dia shalat dan shaum serta mengaku 
muslim." (Ibthalut Tandid: 76). Dua doa disini adalah doa ibadah dan doa mas-alah 
(permintaan), sedangkan penyandaran ketaatan adalah termasuk doa ibadah. Itu orang 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 32 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

yang menyandarkan, maka bagaimana halnya dengan orang yang menerima 
penyandaran ibadah dan mengajak manusia kepadanya seperti para anggota legislatif 
itu...! Sungguh mereka lebih kafir dari Musailamah dan Mirza Ghulam Ahmad serta 
para pengaku nabi lainnya. Mereka juga adalah thaghut sebagaimana firman Nya ta'ala: 

Iju^: Sto j-il^y o! jikli! Iji ^ b£^s ^ W % oy^ 1 jj W^ 

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman 
kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum 
kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah 
untuk kajir kepada thaghut itu. Dan syaithan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) 
penyesatan yang sejauh-jauhnya. " (QS. An Nisa: 60) 

Thaghut di dalam ayat ini di antaranya adalah para pembuat hukum, Syaikh Muhammad 
At Tamimi rahimahullah berkata perihal tokoh para thaghut yang kedua: "Penguasa 
yang aniaya dan merubah aturan-aturan Allah" (Risalah Fi Ma'na Thaghut di dalam 
Majmu'ah At Tauhid). Jadi semua anggota legislatif itu adalah thaghut yang diibadati, 
sama seperti patung-patung yang dipajang di candi Borobudur, bila patung-patung itu 
diibadahi dengan doa, sesajian dan ritual lainnya, maka berhala-berhala berdasi di biara 
parlemen dan gedung dewan itu diibadati dengan ditaati hukum hasil buatannya. . . 






"manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang 
Maha Esa lagi Maha Perkasa? " (QS. Yusuf: 29). 

Mana yang lebih baik, hukum yang diturunkan Allah ta'ala yang mengetahui 
segalanya ataukah hukum buatan orang-orang kafir dan murtad yang memiliki aneka 
macam kepentingan dan selalu ditemani syaithan. . .? 

Mereka juga divonis sebagai pemimpin-pemimpin kesesatan sebagaimana firman-Nya: 



* 



s.uJ1 4jj^ £j* \y>^j> jj *$**& ^y (i-^vi Jp! ^* \j*^>\ 

"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah mengikuti aulia 
(pemimpin-pemimpin) selain-Nya. " (QS. Al A'raf: 3) 

Apa yang digulirkan oleh para anggota legislatif itu jelas bukan apa yang Allah 
turunkan, sehingga mereka itu adalah para pemimpin kesesatan dan kekafiran yang 
mengajak manusia kepada hukum (dien) mereka yang zalim seluruhnya walaupun 
mereka menyebutnya sebagai keadilan, karena syirik adalah kezaliman yang sangat 
besar, sebagaimana firman-Nya: 

L}?* liy iJjlJ! Sl 

"Sesungguhnya syirik adalah benar-benar kezaliman yang sangat besar "(QS. Luqman: 
13) 

Mereka juga divonis sebagai orang-orang bodoh, sebagaimana firman-Nya 
ta'ala: 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 33 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

"Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari 'at (peraturan) dari urusan 
(agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa najsu orang- 
orangyang tidak mengetahui. " (QS. Al Jatsiyah: 18) 

Jadi para anggota legislatit itu adalah orang-orang yang tidak mengetahui alias orang 
bodoh, karena semua orang kafir pada hakikatnya adalah orang-orang yang bodoh, 
sebagaimana firman-Nya ta'ala: 



OjJUiii 14$ jupI A^JtS Jji g£\ ji 



"Katakanlah: "Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah hai orang- 
orangyang bodoh... ? " (QS. Az Zumar: 64), 

Ini karena: 

liiiJjl U^ OyCLL^ ^ jlil lij KS QjJ,.,r?,°,j ^ {js\ Ltbi \j$ Oj^ aaj "V S-*?^-* *■* 

"Mereka mempunyai hati, tapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat 
Allah) dan mereka mempunya mata (tapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda- 
tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tapi) tidak dipergunakannya 
untuk mendengar (ayat-ayat Alla). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka 
lebih sesat lagi. " (QS. Al A'raf: 179) 

Itulah vonis-vonis Allah ta 'ala bagi para anggota legislatit (MPR, DPR, DPRD dan 
yang serupa itu) dan bagi para pembuat hukum atau UU dan para pengklaim memiliki 
kewenangan itu walau tidak membuat. Maka masih adakah yang meragukan kekafiran 
mereka...? atau adakah orang yang memberi udzur sebagian mereka dengan udzur 
takwil atau ijtihad dan yang serupa itu padahal dia tidak mengudzur yang kekatirannya 
di bawah kekafiran para pengaku tuhan itu. . .? 

Sungguh tidak ada yang meragukan kekatiran mereka kecuali orang kafir seperti 
mereka atau para penganut paham bid'ah yang berpijak di atas syubhat, atau katak 
dalam tempurung yang tidak mengetahui realita yang terjadi di sekitarnya 



B. PEKERJAAN YANG MERUPAKAN PEMUTUSAN DENGAN HUKUM 
BUATAN 

Pekerjaan pemutusan dengan selain hukum Allah ta 'ala yang merupakan pekerjaan para 
yudikatit dan eksekutif, yaitu seperti para hakim, para jaksa dan para pejabat adalah 
pekerjaan kekatiran dengan sendirinya. Selain mereka memutuskan dengan hukum 
thaghut, mereka juga sudah pasti tahakum (merujuk hukum) kepada hukum thaghut 
yang menjadi sandarannya, sedangkan masing-masing dari keduanya merupakan kufur 
akbar. 



6jjii£ji Lk &4fi iJJi jjjt U ^ J ^j 



" ...Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka 
mereka itu adalah orang-orang yang kajir. " (QS. Al Maidah: 44) 



6>tj4j! Li lUJjtl iJJl Jjjt U J^ i jlj 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 34 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

"...Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka 
mereka itu adalah orang-orang yang zalim. " (QS. Al Maidah: 45) 



O^Llill Lk IbJjtl ijjl j/f U <J>&. \ jlj 



"Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka 
mereka itu adalah orang-orang yangfasik. " (QS. Al Maidah: 47) 

Ayat-ayat ini dengan rentetan ayat sebelumnya adalah berkaitan dengan orang 
yang meninggalkan hukum Allah ta 'ala dan malah merujuk kepada hukum tandingan 
yang mereka sepakati sebagai rujukan. Al Imam Ahmad dan Muslim meriwayatkan dari 
Al Bara ibnu 'Azib radliyallahu 'anhu berkata: "Dilewatkan kepada Nabi salallahu 
'alaihi wa sallam seorang Yahudi yang wajahnya dipoles hitam lagi didera, maka 
beliau memanggil mereka dan berkata: "Seperti ini kalian mendapatkan had pezina di 
kitab kalian?", mereka berkata: "ya", maka beliau memanggil seorang dari ulama 
mereka, terus berkata: "Saya ingatkan kamu dengan Allah yang telah menurunkan 
Taurat kepada Musa, seperti ini kalian mendapatkan had pezina di kitab kalian?", 
maka dia berkata: "Tidak, demi Allah, seandainya kamu tidak mengingatkan saya 
dengan hal ini tentu saya tidak mengabarkan kepadamu. Kami mendapatkan had peiina 
di kitab kami itu rajam, namun tatkala hal itu banyak di kalangan para bangsawan 
kami, maka kami bila seorang bangsawan beriina kami pun membiarkannya, dan bila 
orang lemah berzina maka kami tegakkan had itu kepadanya. Kemudian kami berkata: 
"Mari kita sepakati agar kita menjadikan sesuatu (hukuman) yang kita tegakkan 
terhadap bangsawan dan orang papa", maka kami pun sepakat terhadap tahmim 
(pemolesan wajah dengan warna hitam) dan dera. " 

Di sini mereka tidak menghapus hukum Allah ta 'ala yang ada di dalam Taurat dan 
mereka juga tidak menghalalkan zina, namun mereka menyepakati hukum lain yang 
diterapkan di tengah mereka. Dan orang-orang yang memutuskan dengan hukum buatan 
pada zaman ini juga sama seperti mereka, sehingga vonis yang diterapkan kepada 
orang-orang itu juga sama dengan yang disematkan kepada mereka " ...maka mereka itu 
adalah orang-orang yang kajir", dan ulama sepakat bahwa gambaran yang sama 
dengan sebab turun ayat adalah masuk secara qath 'iy di dalam hukum yang ada di ayat 
itu. 

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: "Barangsiapa meninggalkan aturan baku yang 
diturunkan kepada Muhammad ibnu Abdillah penutup para nabi dan dia malah merujuk 
hukum kepada hukum-hukum yang sudah dinaskh (dihapus), maka dia telah kafir. Maka 
bagaimana gerangan dengan orang yang merujuk hukum kepada Alyasa (Yasiq) dan 
lebih mendahulukannya terhadap (aturan Muhammad) itu, maka dia kafir berdasarkan 
ijma kaum muslimin." (Al Bidayah Wan Nihayah: 13/119). 

Sedangkan Alyasa (Yasiq) itu adalah kitab hukum yang disusun oleh Jengish Khan 
yang diambil dari gabungan hukum Islam, Yahudi, Nasrani, ahli bid'ah dan pikiran dia 
sendiri, sama seperti yang dibuat oleh pemerintahan thaghut negeri ini dimana mereka 
merangkum dari Islam (dipakai di Pengadilan Agama yang disebut akhwal 
syakhshiyyah kaitan dengan nikah, cerai dan warisan), dari Yahudi dan Nasrani (seperti 
KUHP dan yang lainnya sisa penjajahan Belanda dan dipakai sekarang oleh penjajah 
lokal) dan dari buah pikiran para arbab di parlemen atau di lembaga lainnya, yang 
semua tidak terlepas dari batasan Yasiq terbesarnya yaitu UUD 1945 yang sering 
ditambal sulam. 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 35 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

Pemerintah, pejabat, hakim dan jaksa semuanya meninggalkan ajaran Allah ta 'ala dan 
malah memutuskan dan merujuk kepada Yasiq modern, maka mereka kafir dengan 
ijma' kaum muslimin, bahkan mereka itu salah satu tokoh thaghut, sebagaimana yang 
dikatakan oleh Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab rahimahullah bahwa diantara 
tokoh para thaghut yang ketiga: Yang memutuskan dengan selain apa yang Allah 
turunkan, dan dalilnya adalah firman-Nya ta 'ala: "Barangsiapa yang tidak memutuskan 
dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang 
kajir " (Risalah Fi Ma'na Thaghut, Majmu'ah At Tauhid). Vonis ini walaupun dalam 
satu hukum saja, seperti dalam sebab nuzul ayat itu. 

C. PEKERJAAN YANG SIFATNYA PEMBELAAN KEPADA THAGHUT 
ATAU SISTEMNYA 

Dan ini biasa para pelakunya dinamakan Anshar Thgahut seperti Tentara, Polisi, 
Intilejen dan yang lainnya yang bertugas mengokohkan thaghut atau sistemnya atau 
kedua-duanya baik dengan lisan maupun dengan fisik dan senjata. Thaghut atau 
sistemnya tidak akan kokoh dan tidak bisa berbuat apa-apa tanpa anshar yang 
membelanya, melindunginya dan selalu siap siaga berperang di jalannya. Oleh sebab itu 
Allah menamakan anshar thaghut (bala tentaranya) bagai pasak, sebagaimana firman- 
Nya ta'ala: 

"Dan Fir'aun yang memiliki pasak-pasak (tentara yang banyak) yang berbuat 
sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka membuat banyak kerusakan dalam negeri 
itu. " (QS. Al Fajr: 10-12) 

Oleh sebab itu sanksi dunia dan akhirat pun sama-sama didapatkan oleh thaghut dan 
pembantunya berikut ansharnya sebagaiman firman-Nya ta'ala: 

"Maka Kami siksa dia (Fir 'aun) dan tentaranya lalu Kami lemparkan mereka ke dalam 
laut. " (QS. Adz Dzariyat: 40), 

dan firman-Nya ta'ala: 

"Sesungguhnya Fir 'aun dan Haman beserta bala tentaranya adalah orang-orang yang 
bersalah. " (QS. Al- Qashash: 8), 

dan firman-Nya ta'ala: 

aZj\ l&LtljtSrj i « {jyj[]<2j\ 2IiLp jLS ililS" JJijLs t^S\ 3 laLjJwli iSyirj aUJ^-Ls 

l \ Dj^ad V «U^dl fy.j j&\ Ji Jj^Jy 

"Maka Kami hukumlah Fir 'aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke 
dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim. Dan Kami 
jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari 
kiamat mereka tidak akan ditolong. " (QS. Al- Qashash: 40-41). 

Anshar Thaghut itu ada dua: 

Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 36 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

1. Orang atau dinas yang membela thaghut dengan fisik dan senjata seperti tentara, 
polisi, intelijen, dan yang lainnya yang dibentuk dan dipersiapkan untuk itu. 

2. Orang atau dinas yang membela thaghut atau sistemnya dengan lisan atau tulisan, 
baik itu wartawan atau para cendikiawan dan juga para ulama atau du'at suu' yang 
menetapkan keabsahan pemerintahan thaghut ini dan mencap kaum muslimin yang 
berjihad melawannya sebagai para pembangkang atau khawarij. Dan sikap para ulama 
dan du'at suu' ini lebih berbahaya daripada sikap tentara dan polisi terhadap umat, 
karena mereka berbicara atas Nama Allah ta'ala dalam membela para thaghut itu di 
hadapan umat, sedangkan tentara dan polisi bertindak atas dasar dunia (gaji dan 
pensiun). Adapun dalil-dalil perihal kekatiran anshar thaghut ini maka dari Al Qur'an, 
As Sunnah dan ijma. 

Allah ta 'ala bertirman: 



& * 



S.UJJ) IjJjlli OjpUaJI tisj*" (J JjJjI^ tjr^o/^JJtj <d!l Ag?* (J OjJjI^j \j&\ Si^\ 

"Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang kafir 
berperang di jalan Thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu. (QS. An 
Nisa': 76). 

Nash yang tegas menyatakan bahwa orang yang beperang di jalan thaghut adalah orang- 
orang kafir. 

/j;3j*j ajJu ^6 UJ liJJ^ aH\ jib ijJJli ^Ai- Ujj iits f\ij^ IJ^ ^^ £r* $ 

"Katakanlah: barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkan (Al- 
Qur'an) kedalam hatimu dengan seijin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang 
sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman. 
Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikatNya, Rasul-rasulNya, Jibril 
dan Mikail maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kajir. " (QS. Al 
Baqarah: 97-98). 

Al Imam Ahmad, At Tirmidzi, dan An Nasai, meriwayatkan dari ibnu 'Abbas 
radliyalla.hu 'anhuma bahwa orang-orang Yahudi bertanya kepada 
Rasululllah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Kabarkanlah kepada kami siapa 
kawanmu? " ', beliau menjawab: "Jibril". Mereka berkata: "Jibril ituyang turun dengan 
(membawa) pertempuran, peperangan dan azab, musuh kami? Andaikata kamu 
mengatakan Mikail yang turun dengan rahmat, tanaman dan hujan tentu ia lebih 
baik", maka turun ayat di atas. 

Orang yang memusuhi Jibril yang merupakan salah satu utusan Allah ta'ala dari 
kalangan malaikat, maka dia adalah musuh bagi Allah, malaikat-malaikat-Nya dan 
semua rasul-Nya, dan dia itu divonis kafir oleh Allah ta 'ala. Dan begitu juga orang 
yang memusuhi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka dia itu adalah musuh 
bagi Allah, semua malaikat dan semua rasul, dan dia itu adalah orang kafir. 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 37 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

Sedangkan bentuk permusuhan terhadap Allah ta'aladan Rasul-Nya macam apa yang 
lebih dahsyat dari sikap thaghut dan ansharnya yang mencampakkan hukum 
Allah ta'ala, menjunjung tinggi hukum syaitan, meninggikan orang-orang kafir dan 
orang-orang murtad serta orang-orang bejat dan mereka malah mempersulit orang-orang 
yang bertauhid, memenjarakan dan membunuhi mereka, melapangkan jalan bagi setiap 
perusak ajaran Allah ta'ala dan membatasi gerakan para penyeru tauhid, mematikan 
tauhid dan menghidupkan syirik dan kerusakan. . .?! ! 

Dan anshar thaghut adalah dipersiapkan untuk menjaga keamanan sistem kafir dan 
mempertahankan negara kafir dari setiap upaya yang ingin merubahnya dengan sistem 
yang diturunkan Allah ta'ala, oleh sebab itu mereka adalah kafir baik berperang 
melawan kaum muwahhidin ataupun bukan, karena sikap mereka tawalliy (loyalitas 
yang megeluarkan dari Islam) kepada syirik, dan bila memerangi muwahhidin maka 
mereka menggabungkan antara tawalliy kepada syirik dengan tawalliy kepada orang- 
orang musyrik. 

jjk^t l£ yli£j! JJbt ls> \jfi? &$ {J\^ djjk \yfc ^JJ! J! j f\ 

jtolSJ (i-g-jj X^2Jj 4JjU I-SsJJ ,/> ; ; 1 XsiSji jU iJul \JS-\ r&^i p-bj yS *3vjL« ^S/^cj 

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafiq yang berkata kepada 
saudara-saudara mereka yang kajir di antara ahli kitab: "Sesungguhnya jika kamu 
diusir niscaya kamipun akan keluar bersama kalian dan kami selama lamanya tidak 
akan patuh kepada siapapun untuk menyulitkan kamu, dan jika kalian diperangi pasti 
kami akan membantu kalian. " Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka 
benar-benar pendusta" . (QS. AlHasyr: 11). 

Allah ta'ala mempertalikan ukhuwah kujuriyyah (persaudaraan kekatiran) antara orang 
orang munatik yang dhahirnya Islam dengan orang orang Yahudi, yaitu 
Allah ta 'ala menvonis mereka kafir, dengan sebab janji mereka untuk membantu orang 
orang Yahudi itu bila diserang kaum muslimin, padahal janji mereka itu dusta, maka 
bagaimana halnya dengan orang orang yang secara rutin berikrar janji dan sumpah 
untuk membela thaghut dan sistemnya bila ada rongrongan musuh (yang di antaranya 
mujahidin muwahhidin), dan mereka selalu siap siaga kapan saja dipanggil dan mereka 
sebelumnya bersaing untuk masuk dalam barisan itu ?. Bukankah itu realita tentara dan 
polisi serta yang serupa itu di negeri ini?, janganlah ragu terhadap kekatiran mereka 
secara ta'yin. Andai tidak ada janji dan sumpah itu, tetap saja mereka itu kafir karena 
dzat dinas dan tugas mereka sejak awal adalah membela thaghut dan sistemnya, 
sedangkan sumpah dan janji itu adalah penambahan bagi kekatiran mereka. Mereka itu 
kafir saat perang, atau shalat atau haji atau tidur selama belum berlepas diri dari 
kekatiran mereka itu. 

Bagaimana tentara, polisi juga intilejen serta anshar qanun (pembela undang-undang) 
yang dinas di penjara-penjara thaghut bisa disebut muslim sedangkan mereka tidak kafir 
kepada thaghut (Pancasila, UUD dan undang-undang turunannya) yang merupakan 
salah satu dari dua rukun laa ilaaha illallaah. 

Syaikh Sulaiman ibnu Abdillah Alu Asy Syaikh rahimahullah berkata: "Sekedar 
mengucapkan kalimat syahadat tanpa mengetahui maknanya dan tanpa mengamalkan 
konsekuensinya berupa komitmen dengan tauhid, meninggalkan syirik akbar dan kujur 
kepada thaghut, maka sesungguhnya (pengucapan) itu tidak bermanjaat berdasarkan 
ijma. " (Taisir Al Aziz Al Hamid, dinukil dari Al Haqaiq, Syaikh Ali Al Khudlair). 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 38 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa orang yang mengucapkan ucapan kekatiran maka 
dia kafir, walupun dusta, maka apa gerangan bila dia serius? 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam hadits yang globalnya ada dalam 
Shahih Al Bukhari memperlakukan Al 'Abbas yang berada di barisan anshar thaghut 
Quraisy sebagaimana perlakuan terhadap orang kafir, dimana beliau shallallahu 'alaihi 
wa sallam menawannya dan menyuruhnya untuk menebus dirinya, padahal dia itu 
mengaku muslim dan mengaku dipaksa ikut perang Badr, namun beliau shallallahu 
'alaihi wa sallam tidak menoleh kepada pengakuan dan klaimnya itu dan beliau 
shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Dhahir kamu di barisan kaum musyrikin 
memerangi kami, adapun rahasia bathin kamu maka urusan itu atas Allah, tebus diri 
kamu dan dua keponakanmu!" (Fathul Bariy). 

Di sini jelas takfir mu'ayyan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada 
individu anshar thaghut walaupun dia mengaku dipaksa, beliau shallallahu 'alaihi wa 
sallam menghukumi dia kafir secara dhahir, dan batinnya diserahkan kepada 
Allah ta 'ala dengan sebab pengakuan dipaksanya itu. 

Maka bagaimana gerangan dengan tentara, polisi, intelejen dan anshar thaghut hukum 
lainnya (sipir penjara) yang tidak dipaksa dan mereka bersaing saat mendattar, bangga 
dengan korpsnya dan seragamnya, merasa pada posisi kuat dengan menjadi penyembah 
thaghutitu...?!! 



1jp 'A \JJ3 Q\ A jjS ja \/j£\j 



"Dan mereka telah mengambil tuhan-tuhan selain Allah, agar tuhan-tuahn itu menjadi 
pengokoh (pelindung) bagi mereka. " (QS. Maryam: 81). 

Dan mereka lakukan itu demi menggapai dunia (gaji dan tunjangan) 

"Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di 
dunia lebih dari akhirat, dan bahwasannya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum 
yang kafir. " (QS. An Nahl: 107) 

Dan mereka selalu siap siaga kapan saja dipanggil serta kekafiran-kekafiran lainnya. 
Maka jangan ragu-ragu terhadap kekatiran mereka secara tayin. Ingat, 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah lebih wara ' dan lebih hati-hati daripada 
kamu, tapi beliau mengkatirkan secara muayan (personal) orang yang bergabung di 
barisan anshar thaghut Quraisy padahal mengaku muslim dan mengaku dipaksa, namun 
kamu bersikap wara' dari mengkafirkan ta 'yin (personal) tentara dan polisi thaghut itu, 
maka wara' macam apa itu. . . ? ! ! 

Para sahabat pada zaman Abu Bakar Ash Shidiq radliyallahu 'anhum telah ijma 
(sepakat) terhadap kekatiran anshar thaghut Musailamah Al Kadzdzab dan nabi palsu 
lainnya secara ta'yin, dimana saat utusan Buzakha' meminta damai dan taubat datang 
kepada Abu Bakar radliyallahu 'anhu, maka beliau mengutarakan beberapa syarat yang 
disepakati para sahabat di antaranya bahwa mantan orang-orang murtad itu harus 
bersaksi bahwa orang-orang yang mati terbunuh dari mereka adalah masuk neraka. 
Sedangkan orang-orang yang terbunuh itu adalah orang-orang yang muayanin 
(tertentu) dan sedangkan yang boleh dipastikan masuk neraka dalam aqidah Ahlussunah 
Wal Jama'ahhanyalah orang-orang yang mati dalam kondisi kafir, dan orang muslim 
walaupun ahli maksiat tidak boleh dipastikan masuk neraka. Ini artinya para sahabat 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 39 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

ijma atas kekafiran anshar thaghut secara ta 'yin. (Ijma ini bisa dilihat di dalam Risalah 
Mutidul Mustatid dan Syarah Syittati Mawadli' Minas Sirah poin ke-6, milik Syaikh 
Muhammad ibnu Abdil Wahhab dan Al Jami' bahasan Anshar Thaghut milik Syaik 
Abdul Qadir ibnu Abdil Aziz). 

Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata perihal orang-orang yang 
dikatirkan dengan sebab syirik akbar: "...dan begitu juga (kami katirkan) orang yang 
berdiri dengan pedangnya melindungi kuburan-kuburan yang dikeramatkan ini 
semuanya dan dia memerangi orang yang mengingkarinya dan berupaya untuk 
melenyapkannya." Sedangkan tentara, polisi dan satgas syirik lainnya adalah penjaga 
dan pengawal Pancasila syirik, demokrasi kafir dan UU thaghut, dimana lisan mereka 
selalu bergema melantunkan dengan lantang Garuda Pancasila, Akulah Pendukungmu, 
Patriot Proklamasi, Rela Berkorban Untukmu. 

Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab rahimahullah tentang anshar Musailamah Al 
Kadzdzab yang tertipu oleh para saksi palsu dan para du'at penipu yang mengabsahkan 
klaim Musailamah: "...namun begitu para ulama ijma' bahwa mereka itu murtad 
walaupun mereka jahil akan hal itu, dan barang siapa ragu perihal kemurtadan mereka 
maka dia kajir. " (Syarah Syittati Mawadli' Minas Sirah poin ke-6, Majmuah At 
Tauhid), bahkan diantara yang menjadi saksi keabsahan Musailamah adalah Ibnu 
Unfuah utusan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Banu Hanitah (kaum 
Musailamah) yang malah membelot kepada Musailamah dan menyesatkan mereka, 
begitu juga banyak orang yang tertipu menjadi anshar thaghut (tentara, polisi, intelejen, 
kepala lapas dan anak buahnya dan lain-lain) oleh ulama suu' dan du'at penyeru di atas 
pintu-pintu jahanam yang mengabsahkan pemerintahan kafir murtad ini, sistemnya, 
falsafahnya dan hukumnya (pemerintahan RI), di antara mereka ada yang duduk 
menjadi thaghut di parlemen, ada yang menjadi menteri agama Pancasila, ada yang 
menjadi du'at departemen agama thaghut, ada sebagai Bintal (pembintaan mental) di 
militer dan posisi-posisi lainnya yang menipu umat. 

Di dalam kaidah fiqhiyyah ditegaskan bahwa status personel thaijah 
mumtani 'ah (kelompok yang mengokohkan diri atau melindungi diri dengan kekuatan 
yang dimilikinya) adalah tergantung pemimpinnya. Bila thaijah itu 
adalah bughat (pemberontak muslim) maka personelnya adalah baghiy (pemberontak 
muslim), bila Khawarij maka personelnya Khariji, bila thaijah itu adalah pemerintah 
murtad maka personel ansharnya adalah orang kafir murtad (bila mengaku muslim). 

D. PEKERJAAN YANG BERSIFAT MENYETU.TUI DAN MENGIKUTI 
SISTEM THAGHUT 

Seperti pekerjaan-pekerjaan yang ada di dinas kejaksaan, kehakiman, KPU, Sekretariat 
MPR/DPR/DPRD dan yang serupa dengan itu yang intinya menyetujui dan mengikuti 
sistem atau hukum kafir. Umpamanya seorang petugas kejaksaan (bukan Jaksa) saat 
memborgol dan mengkrangkeng atau menjemput tahanan adalah dalam rangka 
mengikuti hukum thaghut, seorang petugas Sijn (sipir penjara/LP) bertugas menjaga 
narapidana agar tidak kabur dalam rangka mengikuti hukum thaghut dan seterusnya. 

Pekerjaan-pekerjaan ini sama dengan pekerjaan-pekerjaan sebelunya adalah kekatiran, 
baik ada sumpah maupun tidak ada karena menyetujui atau mengikuti hukum kafir 
tanpa ikrah (dipaksa) adalah tawaliy/muwallah kubra (loyalitas yang mengeluarkan dari 
Islam) 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 40 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

A jS\j A ip iikiJi &'&\ A $£ u jk> J> ^i Jz> \/jjj\ && h\ 
r*j\yi>\ jU« iliij j§\ jak, d &^ &\ iP u \y>f ji& \j& jU^ dAJS y o 

^sttl») \j> \yC3\ *4->^ dlji T V LajUSij *4%*-J ^>y.J^>, 4XptiJl %&*'y \*\ ilij^* ^ ^ 

YA 4-2>U-p1 Jao-Ls ^Jtj-^j |y*^3 

"Sesunguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekajiran) sesudah 
petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) 
dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena 
sesungguhnya mereka itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang 
diturunkan Allah: "Kami akan mematuhi kamu dalam sebagian urusan ", sedang Allah 
mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat 
maut mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka ? 
Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang 
menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang 
menimbulkan) keridlaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal- 
amal mereka". (QS. Muhammad: 25-28) 

Di dalam ayat-ayat ini Allah ta 'ala memvonis murtad orang yang berjanji kepada 
orang-orang kafir bahwa dia akan mematuhi atau mengikuti mereka dalam satu urusan 
kekatiran, maka bagaimana halnya dengan orang yang benar-benar mematuhi atau 
mengikuti dalam urusan kekatiran itu? Dan bagaimana halnya dengan orang yang 
tugasnya adalah menjalankan aturan katir dan bila dia diprotes maka dia menjawab " 
saya hanya menjalankan tugas atau perintah " atau " saya hanya menjalankan atau 
mengikuti hukum yang berlaku "? Jelas mereka mengikuti apa yang menimbulkan 
murka Allah ta'ala dan dengan tindakannya itu mereka membenci apa yang 
mendatangkan ridla-Nya. 

Allah ta'ala bertirman: 

jdj ijj&\ p> aLi ^l» 01 Ji ^<4^ f-f> J^- ^Sj^J^ Vj ^j4^' && J^y Jj 

jyfj Vj ^J ^yA 4JUI £jA liJJ \j> (jL^Jt £jA £f\U (jSj\ JJtJ *Af.\y\>\ lHJLjl 

"Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu 
mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk 
(yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah 
pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong 
bagimu. " (QS. Al Baqarah: 120) 

Dan firman-Nya ta'ala: 

(j^JUiJl ^jj) IS1 dJUI +1*j\ {+* iis-Us- \j> ^Aj /y »j*$.\ja\ cJilJl jdj 

"Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang 
kepadamu sesungguhnya kalau begitu kamu termasuk orang-orang yang zalim. " (QS. 
Al Baqarah: 145) 

Ayat itu menjelaskan bahwa seandainya orang muslim mengikuti ajaran kafir tanpa 
dipaksa maka dia itu kafir walaupun di hati tidak menyukainya atau dia membencinya 
atau hatinya masih beriman, karena keyakinan hati ini tidak dianggap saat lisan 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 41 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

mengucapkan kekafiran atau anggota badan mengerjakan kekatiran kecuali saat 
kondisi ikrah (dipaksa) saja, sebagaimana firman-Nya ta'ala: 

^iSoU r-jJi y j^Oj OIjC^L) l£^» ^ilij OjJ i <J^ ^i\ AJUJi -X*j /^ aJJLj ^aS ^ 

jk ujJJi «iii ijki^i j^jt iyS wi tjkp ^ilp iij Jji 52 cl^ ^ki ^ 

"Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman, kecuali orang yang 
dipaksa padahal hatinya tetap tenang dengan keimanan, akan tetapi orang yang 
melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka Allah menimpa mereka azab yang besar. 
Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan dunia 
lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kaum yang 
kafir. " (QS. An Nahl: 106-107) 

Ayat ini menunjukkan bahwa kekatiran itu tidak dimaatkan kecuali dengan 
sebab ikrah saja, dan ayat ini menunjukkan juga bahwa orang yang mengucapkan atau 
mengerjakan kekatiran tanpa ikrah adalah telah melapangkan dadanya untuk kekatiran 
walaupun dia mengklaim sebaliknya atau mengklaim mencintai Islam tetap saja dia 
divonis katir dan Allah ta'ala nyatakan bahwa kekatiran itu terjadi bukan karena ingin 
kafir atau benci kepada Islam, namun "...karena mereka sesungguhnya mereka 
mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat", yaitu gaji, tunjangan, tasilitas 
kehidupan dan jaminan pensiun di masa tua. 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: "Dan secara umum barangsiapa 
mengucapkan atau mengerjakan sesuatu yang merupakan kekatiran maka dia kafir 
dengan sebab itu meskipun dia tidak bermaksud untuk kafir, karena tidak bermaksud 
untuk kafir seorang pun kecuali apa yang Allah kehendaki." (Ash Sharimul Maslul). 

Syaikh Sulaiman ibnu Abdilllah Alu Asy Syaikh rahimahullah berkata "Ulama ijma 
bahwa siapa yang mengucapkan atau mengerjakan kekatiran maka dia kafir, baik dia itu 
serius atau bercanda atau main-main, kecuali orang yang dipaksa." (Ad Dalail: 1). 

Bahkan Allah ta'ala bertirman perihal orang-orang yang mengucapkan kekatiran terus 
beralasan bahwa mereka hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja 



lijtSjJ 3Ju f'j&"& IjsjJ^ H 



"...tidak usah kalian meminta maaf, karena kalian kajir setelah beriman. " (QS. At 
Taubah: 66) 

E. PEKERJAAN YANG DISYARATKAN TERLEBIH DAHULU UNTUK 
BERSUMPAH ATAU BERJAN.TI SETIA KEPADA THAGHUT/SISTEM DAN 
HUKUMNYA 

Setiap pekerjaan di dalam dinas pemerintahan thaghut ini walaupun asal pekerjaannya 
mubah atau haram yang tidak sampai kepada kekatiran, namun sebelum diangkat 
menjadi pegawai/pekerja disyaratkan mengikrarkan sumpah/janji setia kepada thaghut, 
maka ini adalah kekatiran karena sebab sumpah/janjinya itu bukan karena dzat 
pekerjaannya. Umpamanya menjadi mantri atau dokter di puskesmas atau rumah sakit 
adalah mubah, namun bila dia sumpah setia kepada thaghut sebelumnya maka dia kafir 
karena sumpahnya. Menjadi PNS di Bea Cukai atau Perpajakan atau Imigrasi adalah 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 42 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

pekerjaan haram karena semuanya kezaliman, namun tidak sampai kepada kekatiran 
akan tetapi bila sebelumnya ada sumpah atau janji setia kepada thaghut maka menjadi 
kafir dengan sebab sumpahnya itu. 

A jS\j A ip oiklji ^A\ A ^ u &> J ^f\ J* tyjji ^jji Si 
pijip-i pk> &\$ jfi\ jsk* j ^JJ^ ili jjj u iji/ ^JJJ (jJil ^4jI jjjS yo 
1*^.1 u i^ii l£\ diJS y v iij^itj ^4%ij 5^ fe>ui f4^ 1S1 o$^ y n 

YA 4-2>Lipi ia.p-U 4j(j^j ly^ij ^ 



"Sesunguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah 
petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) 
dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena 
sesungguhnya mereka itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang 
diturunkan Allah: "Kami akan mematuhi kamu dalam sebagian urusan ", sedang Allah 
mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat 
maut mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka ? 
yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang 
menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang 
menimbulkan) keridlaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal- 
amal mereka. " (QS. Muhammad: 25-28) 

Di sisi Allah ta 'ala memvonis murtad orang yang berjanji kepada orang-orang kafir 
untuk mematuhi sebagian urusan kekatiran mereka, maka apa gerangan dengan orang 
yang berjanji untuk setia kepada falsafah kafir, hukum kafir dan negara kafir dan untuk 
mematuhi segala aturan thaghut...???, dan apa gerangan dengan orang yang 
mengatakan janjinya dan sumpahnya itu dengan nama Allah...???, sedangkan sesuai 
dengan aturan main/UU thaghut bahwa orang yang resmi menjadi PNS harus 
mengikrarkan sumpah PNS seraya disaksikan seorang rohaniawan dan pejabat 
dilingkungan dinasnya, dan isi sumpahnya adalah sumpah dengan nama Allah untuk 
setia kepada Pancasila, UUD 45 dan Negara Kafir Republik Indonesia (NKRI) dan 
untuk mematuhi segala peraturan perundang-undangan yang berlaku serta untuk 
menjaga rahasia negara dan mendahulukan kepentingan negara terhadap kepentingan 
golongan (yaitu agama Islam diantaranya). Hakikat sumpah itu adalah: "DEMI ALLAH 
SAYA AKAN KAFIR KEPADA ALLAH DAN BERIMAN KEPADA 
THAGHUT. ..!!!" padahal Allah ta'ala: 

OjPlLjl Ij^rlj aJJI IjJ&I j! 

"... beribadahlah kalian kepada Allah danjauhilah thaghut itu... " (QS. An Nahl: 36) 
Dan Allah ta'ala berfirman: 

ti ^UaiJl NJ ^jJl S#j\ ILc^i^l jjj aJJL ^jjj ojpltaJb °)&> lfi 

"...barangsiapa kajir kepada thaghut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya 
ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kokoh yang tidak akan putus. " (QS. Al 
Baqarah: 256). 

Bila orang itu mengklaim bahwa dia ucapkan itu seraya berdusta dan di hatinya tidak 
ada niat untuk setia dan patuh, maka kami katakan bahwa kamu tetap kafir. . . ! walau 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 43 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

hanya bohongan saat mengikrarkan sumpah itu, karena Allah telah mencap kafir orang 
yang berjanji bohong untuk melakukan kekatiran (yaitu membantu orang-orang Yahudi 
dalam melawan Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam), sebagaimana firman- 
Nya ta 'ala: 

jjk^t l£ yliSCJ! Jit ls> \tf£ y$\ f*y£-\ bjjk \yft ^JJ! J! j f\ 

jtolSJ (t-gJl X^2Jj 4JjU LSoJ ,/> ; ; 1 IJJjaS jU iJul iJj>-' (*3s-s /*-r 2 -' jj t*-^*^ ^ySryitjJ 

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafiq yang berkata kepada 
saudara-saudara mereka yang kajir di antara ahli kitab: "Sesungguhnya jika kamu 
diusir niscaya kamipun akan keluar bersama kalian dan kami selama lamanya tidak 
akan patuh kepada siapa pun untuk menyulitkan kamu, dan jika kalian diperangi pasti 
kami akan membantu kalian. " Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka 
benar-benar pendusta". (QS. AlHasyr: 11). 

Alasan yang diterima Islam hanya ikrah (paksaan), sedangkan kalian tidak dipaksa dan 
malah justru bersaing untuk menjadi pegawai dan bahkan dengan menyogok agar lulus, 
tapi 

<jijt&\ ylii (£.4: S *JJi Stj iy^i\ Jlp ipjJi auii yk£*\ ^jt iyS 

"... jang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan 
dunia lebih dari akhirat, dan bahwasannya Allah ta 'alatidak member petunjuk kepada 
kaum yang kajir". (QS. An Nahl: 107) 

Ini adalah bentuk-bentuk pekerjaan yang kufur akbar di dinas pemerintahan thaghut ini, 
dan untuk poin A, B, C dan D pekerjaan-pekerjaan di sana adalah kekafiran akbar 
dengan sendirinya yaitu dzat pekerjaannya adalah kufur akbar dan syirik akbar sehingga 
individu orangnya bisa kita kafirkan karena terbukti kekafirannya di hadapan kita. 
Adapun yang poin E yaitu yang dikafirkan dengan sebab sumpah/janji setia bukan 
karena dzat dinas atau pekerjaannya maka kita tidak bisa mengkatirkan individu 
orangnya kecuali kalau kita mengetahui langsung bahwa dia bersumpah, atau orang itu 
mengakui bahwa dia bersumpah, atau ada dua saksi laki-laki adil yang bersaksi 
dihadapan kita bahwa keduanya melihat atau mendengar dia bersumpah atau ada khabar 
yang istijadlah (masyhur diketahui khalayak umum) bahwa dia bersumpah. 

Kalau ada salah satu dari hal-hal itu maka boleh mengkatirkan individu (ta yin) orang 
itu, namun bila tidak ada maka tidak boleh mengkatirkannya walaupun sebenarnya dia 
itu bersumpah (kafir), di mana dihadapan Allah ta'ala dia itu kafir sedangkan dihadapan 
kita dia itu dihukumi muslim karena menampakkan keislaman. Dan bisa saja si A 
mengetahui dia itu kafir karena melihatnya bersumpah sehingga memperlakukannya 
sebagaimana orang kafir, namun si B tidak mengetahuinya sehingga menganggapnya 
muslim, dan itu tidak ada masalah dan si A tidak boleh memaksa si B untuk mengikuti 
vonis dia, tapi si B boleh mengikuti si A bila dia adil sebagaimana 
Umar radliyallahu 'anhu mengikuti Hudzaifah radliyallahu 'anhu dalam sikap tidak 
menshalatkan jenazah orang munafik yang hanya diketahui Hudzaifah dari 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. 

<2>. Pekerjaan yang haram yang tidak sampai kepada kekafiran. 

Yaitu setiap pekerjaan yang tidak mengandung salah satu usur kekatiran di atas akan 
tetapi bergerak di dalam bidang yang haram, seperti riba, kezaliman, membantu dalam 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 44 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

kezaliman, memakan harta manusia dengan batil, atau muwallah shugra (segala yang 
menghantarkan kepada penghormatan dan kemuliaan orang kafir dengan tetap 
membenci, memusuhi, dan mengkatirkannya), atau hal haram lainnya. 

<3>. Pekerjaan yang makruh 

Yaitu yang tidak ada unsur kekatiran dan keharaman, dengan syarat darurat atau sangat 
membutuhkan dan tetap menampakkan keyakinan (dien). Dikatakan makruh karena 
yang dituntut dari orang muslim adalah menjauhi orang kafir. Dan adapun syarat 
menampakan dien maka dia diambil dari kontek hadits atau atsar yang menunjukkan 
bahwa sebagian shahabat bekerja pada orang-orang musyrik seraya tetap menampakkan 
dien yang dianut, di mana Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Khabab ibnu Al 
Art radliayallahu 'anhu berkata: "Saya mendatangi Al 'Ash ibnu Wail As Sahmi untuk 
menagih hak saya yang ada padanya, maka dia berkata: "Saya tidak akan 
memberikannya kepadamu sampai kamu katir kepada Muhammad.", maka saya 
berkata: "Tidak, sampai kamu mati terus dibangkitkan pun." 

Bila tidak menampakkan diennya saat dia bekerja di dinas milik thaghut maka dia 
berdosa karena meninggalkan kewajiban demi dunia. 

Orang yang kekatirannya hanya karena sebab sumpah setia kepada thaghut namun dzat 
pekerjaannya bukan kekatiran seperti bentuk pekerjaan model E, maka dia menjadi 
muslim dengan berlepas diri dari sumpahnya itu dan ikrar dua kalimah syahadat lagi, 
walaupun dia tidak keluar dari pekerjaannya, namun yang utama adalah dia keluar dari 
pekerjaannya itu. Sedangkan orang yang dzat pekerjaannya adalah kekatiran seperti 
bentuk-bentuk pekerjaan model A, B, C, D, maka dia tidak menjadi muslim kecuali 
dengan keluar dari pekerjaannya dan ikrar dua kalimah syahadat lagi. 

Wallahu Ta 'ala A 'lam. 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 45 ] 



At-Tawhid wal Jihad 



Judul ketiga: 

PELITA PENERANG BAGI PERTANYAAN PENDUDUK 
JAZIRAH 

(Mashobih Al Muniroh Fir Rodd 'Ala Asilati Ahlil Jaiirah) 

PENULIS: ABU MUHAMMAD 'ASHIM AL MAQDISIY 

ALIH BAHASA: ABU SULAIMAN AMAN ABDURRAHMAN 



Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam hanya dilimpahkan kepada 
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dan orang-orang yang loyal kepadanya. 

Wa Ba'du, 

Telah muncul pertanyaan-pertanyaan berikut ini kepada saya dari sebagian 
ikhwan muwahhidin dari kalangan jazirah Arab , dan ia adalah sangat singkat: 

1 . Apa hukum bekerja di dinas-dinas pemerintahan yang kafir? 

2. Apa hukum bekerja sebagai tentara dan polisi pemerintah-pemerintah yang kafir 
ini? 

3. Apa hukum ikut serta atau keluar dalam pasukan PBB untuk menjaga 
perdamaian dan untuk menyelesaikan sebagian pertikaian di banyak belahan 
dunia? 

Sungguh saya sangat senang dan saya memuji Allah ta'ala dengan munculnya 
pertanyaan-pertanyaan semacam ini dari negeri itu, karena kebiasaan yang kami ketahui 
dari mayoritas penduduknya — kecuali orang-orang yang Allah rahmati dan itu sangat 
sedikit — adalah mereka tidak peduli dengan masalah-masalah seperti ini dan bahkan 
mereka itu sangat alergi dari sekedar mengusiknya, serta mereka menganggap 
pembicaraan di dalamnya tergolong metode Khawarij, Taktiriy dan yang lainnya, dan 
bahkan sebagian mereka memandang masalah ini mengeraskan hati dan sama sekali 
tidak ada taidah dibaliknya. Dan ini demi Allah tergolong kebathilan yang paling bathil, 
karena ia seluruhnya berkaitan dengan Millah Ibrahim dan dengan autsaqu 'ural 
itnan (ikatan iman yang paling kuat) sedangkan hal seperti ini adalah tergolong inti 
ajaran dien ini, serta (tergolong) pondasi-pondasi dakwah para Nabi dan Rasul. Dan 
jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini lebih dahulu harus didahului dengan 
penjelasan realita keadaan pemerintahan-pemerintahan yang mencekik leher kaum 
muslimim ini. 

Ketahuilah mudah-mudahan Allah merahmati engkau, bahwa pemerintahan- 
pemerintahan Jabriyyah (yang dipaksakan) yang mencengkram negeri-negeri kaum 
muslimin hari ini tidak ada yang ragu akan kekafirannya kecuali orang-orang yang 



4 Maksudnya Saudi dan sekitarnya karena Saudi adalah negara kafir dan pemerintahnya adalah 
pemerintah kafir juga (lihat: Kawasyif Al Jaliyyah Fi Kufri Ad Daulah As Su'udiyyah). Bila hukum- 
hukum yang akan diutarakan adalah tentang pegawai pemerintah Saudi yang tidak trontal (terang- 
terangan) akan kekatirannya, maka apa gerangan dengan aparatur Negara Republik Indonesia ??? (Pent) 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 46 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

Allah tutup mata hatinya dan Dia butakan dari cahaya wahyu seperti mereka, karena 
kekatiran mereka bermacam-macam dan beraneka ragam dari berbagai pintu, di 
antaranya : 

1. Mereka kafir dari pintu pembuatan hukum dan perundang-undangan di samping 
Allah apa yang tidak Allah izinkan, di mana undang-undang dasar mereka yang bersitat 
nasional maupun internasional, baik tingkat lokal maupun tingkat PBB atau Liga Arab 
(seperti : OKI, ASEAN, dsb. Pent ) dan yang lainnya menegaskan bahwa wewenang 
pembuatan hukum dan undang-undang itu berada di tangan mereka dan para wakil 
rakyat. 

Dan ini adalah hal yang baku lagi dikenal dalam butir-butir undang-undang dasarnya 
yang kafir. Tidak mendebat di dalamnya kacuali orang-orang bodoh yang tidak 
mengetahui atau pura-pura tidak mengetahui dan tidak ingin mengetahuinya, Allah 
ta'alaberfirman : 



jlpll J^ljll aJJI J *p~ hj?J>£ L>\$ 



"Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang berm.acam.-m.acam. itu ataukah Allah Yang 
Maha Esa lagi Maha Perkasa ? " (QS. Yusuf :39) 

2. Mereka kafir dari pintu ketaatan mereka kepada para pembuat hukum — baik lokal 
maupun internasional dan yang lainnya — dan pintu ittiba ' (mengikuti) mereka terhadap 
undang-undang katirnya. Allah Subhanahu Wa Ta 'ala bertirman : 

HS! <u Oiy °i \j> QiJj\ ,V A !>^r^ s-^r^ (A f 

"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari 'atkan 
untuk mereka dien yang tidak diizinkan Allah ? " (QS. Asy Syuura: 21) 

dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta 'ala : 

A jS\j A ip «jikiji &'£\ A $£ u jJ6 J> ^jUSt Jlp Ijjjji ^jji 5t 

^j^l i&j itlj ^l Ju6, j ^^ iiil $ U \y>/ <£& IjJll L$\j, && Yo 

Yn 

"Sesungguhnya orang-orang yang kembali kebelakang (kepada kekafiran) sesudah 
petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) 
dan memanjangkan angan-angan mereka. Dan yang demikian karena sesungguhnya 
mereka (orang-orang munafiq) itu berkata pada orang-orang yang benci kepada apa 
yang diturunkan Allah (orang Yahudi): "Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa 
urusan. " (QS. Muhammad : 25-26). 

Ini bagi orang yang berkata "kami akan mematuhi kamu dalam beberapa 

urusan", maka bagaimana dengan orang yang berkata kepada mereka (orang-orang 



5 Di antara makna Dien adalah aturan/hukum/undang-undang sebagaimana tirman Allah Subhanahu Wa 
Ta 'ala : 

"Tiadalah patut Yusuj menghukum saudaranya menurut undang-undang raja " (QS. Yusuf : 76) 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 47 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

kafir dan para Thaghut): "kami akan mematuhi kamu dalam banyak urusan atau 
dalam semua urusan" , terus mereka menyerahkan pengendalian mereka kepada para 
pembuat hukum/undang-undang/undang-undang dasar mereka dan mereka menerima 
aturan-aturan buatannya dengan sepenuhnya. 

3. Dan mereka kafir dari pintu tawwaliy (loyalitas) mereka terhadap orang-orang kafir 
dari kalangan Nashrani, Yahudi, musyrikin, dan kaum murtaddin. Dan penjagaan serta 
perlindungan yang mereka berikan terhadap orang-orang kafir itu dengan tentara, 
senjata, harta dan ekonomi, bahkan mereka telah menjalin hubungan dengan kaum kafir 
itu sebagai kesepakatan dan perjanjian bantuan dengan personil, harta, lisan dan senjata 
di mana mereka tawwaliy (loyalitas) penuh terhadap orang-orang kafir itu, sedangkan 
Allah Subhanahu Wa Ta 'ala berfirman : 






"Barangsiapa di antara kamu tawalliy kepada mereka, maka sesungguhnya orang itu 
termasuk golongan mereka" (QS. Al Maidah : 51) 

4. Dan mereka kafir dari pintu persaudaraan yang mereka jalin dengan orang-orang 
katir kalangan timur dan barat, jalinan cinta, kasih sayang dengan mereka. Allah ta'ala 
berfirman: 

^j^jj ^iJl ^L>- ly> jj-5^ t7^ ty^3 ^^ ^y*y>~ ^>* ^ ^ 

"Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat 
saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul- 
Nya... " (QS. Al Mujadillah : 22) 

Dan ini bukan tergolong pengkafiran dengan hal-hal bathin dan amalan hati, akan tetapi 
dengan amalan dan ucapan yang dhahir lagi jelas karena kasih sayang ini mereka 
menegaskan dan menampakannya di setiap kesempatan, dan sarana-sarana informasi 
mereka sangat sarat dengan hal itu. 

5. Mereka kafir dari pintu sikap mereka memerangi wali-wali Allah, mendukung kaum 
musyrikin dan membantu mereka terhadap wali-wali Allah. Allah ta'ala bertirman : 



r^f~ 



\ l£ yli^J! JJbt Ija Sj$S <j$\ l&y^i OjJ^i; \y>& && Ji j f\ 



6 Seperti yang ada pada Sumpah Pegawai Negeri Sipil RI, berdasarkan Peraturan Pemerintah No.21 
Tahun 1975 pasal 6 yang berbunyi : 

"Demi Allah, Saya Bersumpah : 

Bahwa saya untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil akan setia dan taat sepenuhnya kepada 
Pancasila, Undang Undang Dasar 1945, Negara dan Pemerintah; 

Bahwa saya, akan mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas 
kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab; 

Bahwa saya akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan Negara, Pemerintah, dan martabat Pegawai 
Negeri serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya 
sendiri, seseorang atau golongan; 

Bahwa saya akan memegang rahasia sesuatu menurut sitatnya atau menurut perintah saya haruus 
merahasiakan; 

Bahwa saya akan bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan Negara." (Pent> 
Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 48 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

jtplSJ (t-gJl -L^-iJ 4jJU I-SsJj y^2 '. ; I iiUai jU Ijjl \JS-\ *S\*S .^-JsJ V« 4-So«v9 ^pr^tj 

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang munafiq berkata kepada 
saudara-saudara mereka yang kajir di antara Ahli Kitab : "Sesungguhnya jika kamu 
diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu, dan kami selama-lamanya tidak 
akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi 
pasti kami akan membantu kamu. " Dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya 
mereka benar-benar pendusta. " (QS. Al Hasyr : 11). 

Perhatikanlah bagaimana Allah mengkafirkan orang-orang yang menjanjikan terhadap 
kaum musyrikin untuk membantu mereka terhadap kaum muwahhidin dan menjadikan 
mereka sebagai bagian dari saudara-saudara kaum musyrikin dengan sekedar janji yang 
dusta , maka bagaimana dengan orang yang menjalin bersama mereka kesepakatan 
bantuan dan dukungan untuk menjepit kaum muwahhidin, serta betul-betul membantu 
kaum musyrikin terhadap kaum muwahhidin dengan pengejaran, pembunuhan, 
penyeretan ke persidangan, dan pemenjaraan. 

6. Mereka kafir dari pintu penghalalan yang haram dengan pemberian izin untuknya, 
melindunginya, menjaganya, bermufakat dan bersepakat terhadapnya, seperti lembaga- 
lembaga dan gedung-gedung riba, kebejatan, zina serta hal-hal haram lainnya. Allah 
ta'alaberfirman: 

aJLp \$?\y$ ULp kyj£j ULp aj^Jl^ IjJjsS^jJJI 4j ^paj ysSJI J aSUj i^^-Jt lil 

" Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan Haram itu adalah menambah kekafiran, 
disesatkan orang-orang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkan 
pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain agar mereka dapat 
menyesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka 
menghalalkan apa yang diharamkan Allah . (Syaitan) menjadikan mereka memandang 
baik perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada 
orang-orang kafir" (QS. At Taubah : 37). 

7. Dan mereka kafir dari pintu memperolok-olokan terhadap ajaran Allah. Pemberian 
izin bagi orang-orang yang memperolok-olokan, melindungi mereka dan membuat 
undang-undang yang memberikan izin bagi mereka dan memudahkan hal itu bagi 
mereka, baik lewat media cetak, televisi, radio atau yang lainnya. Allah Subhanahu Wa 
Ta 'ala berfirman: 

1S\jIj:I 3J6 f°J^°^ IjjJ&j N| lo Oj5j4ilj Lzt ££% aJUTj aJJLI JJ 

" ...Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu 
berolok-olok? " . Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman... " 
(QS. At Taubah: 65-66). 



7 Berjanji untuk melakukan kakafiran walaupun janji yang dusta dan tidak ada niat dihati untuk 
merealisasikannya adalah kekatiran dan orangnya divonis kafir, seperti PNS yang berjanji dengan janji 
tadi, sedang ia tidak ada niat untuk patuh di dalam hatinya. <PenL) 

Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 49 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

Dan pintu-pintu kekatiran yang mereka masuk dan terjerumus di dalamnya, baik 
beramai-ramai maupun sendiri. Dan setiap pintu dari pintu-pintu ini memiliki ratusan 
bahkan ribuan dalil-dalil dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu'alaihi wa 
sallam yang menunjukan bahwa ia adalah pintu-pintu yang mengkafirkan. Sehingga ia 
adalah lebih terkenal dari sekedar debat dengan orang-orang yang mendebat, sedangkan 
ini bukan tempat untuk menjabarkannya. Namun, yang dimaksud dari hal itu adalah 
pengisyaratkan yang cukup bagi orang-orang yang berakal dan memberikan 
pengetahuan kepadanya bahwa pemerintah-pemerintah ini adalah thaghut-thaghut yang 
diikuti dan ditaati selain Allah Subhanahu Wa Ta 'ala. 

Bila hal ini sudah diketahui, maka jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini adalah kami 
katakan: Bahwa hal itu adalah terdapat dalam tirman Allah yang di dalamnya Dia 
menjelaskan tujuan utama dari pengutusan para rasul seluruhnya. Allah Subhanahu Wa 
Ta 'ala bertirman: 



plLl Ij^rlj aJJl IjJl&l jf Hy»j tff *£ $ &% ^j 



"Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk 
menyerukan): "Sembahlah Allah saja danjauhi thaghut itu ". (QS. An Nahl : 36) 

Tujuan yang karenanya Allah menciptakan makhluk dan mengutus para rasul, dan 
seseorang tidak selamat kecuali dengannya adalah dia mentauhidkan Allah ta'ala saja 
dengan ibadah dan menjauhi peribadatan kepada selain-Nya. Akan tetapi di sana ada 
taidah yang sangat indah, yaitu bahwa saat Allah ta'ala berbicara tentang Diri-Nya 
Yang Maha Agung, Dia menyebutkan bahwa yang Dia tuntut adalah ibadah dan 
pentauhidan-Nya sebagaimana firman-Nya dalam ayat yang lain : 

"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah 
kepada-Ku. " (QS. Adz Dzariyat : 56). 

Adapun ketika Allah bertirman tentang thaghut, maka sesungguhnya Dia 
menuturkan dan mengajak untuk menjauhinya secara mutlak dan tidak membatasinya 
dengan ibadah, sehingga dalam hal itu terdapat dilalah (indikasi) bahwa 
Allah Subhanahu Wa Ta 'ala mencintai bagi kita agar menjauhi thaghut dalam segala 
hal ibadah dan segala hal lainnya, baik itu hal besar ataupun hal kecil. Dan di antaranya 
adalah tidak bekerja pada thaghut walaupun dalam pekerjaan yang tidak ada 
kemungkaran di dalamnya. Inilah yang paling baik, paling utama dan paling sempurna 
bagi sang muwahhid yang mengajak manusia untuk kafir kepada para thaghut 
dan bara ' (berlepas diri) darinya serta menjauhinya. 

Adapun dari sisi hukum syar'iy tentang bekerja di seluruh instansi pemerintah- 
pemerintah yang kafir ini, maka kami tidak mengatakan bahwa seluruhnya kekatiran 
dan seluruhnya haram, namun ada rincian di dalamnya, dan dalam hal itu ada hadits 
yang diriwayatkan Al Bukhari dalam Shahih-nya pada Kibal Ijarah bab : "Apakah 
seorang boleh mengupahkan dirinya bekerja pada orang musyrik di negeri harbiy" 
: [Dari Khabab radliyallahu 'anhu, berkata : "Saya adalah pandai besi, kemudian saya 
bekerja untuk Al Ash Ibnu Wail, sehingga terkumpul hak upah saya di sisinya, 
kemudian saya mendatanginya untuk meminta upah itu darinya", maka ia berkata : 
"Tidak, demi Allah. Saya tidak akan membayar upahmu sampai kamu kajir kepada 
Muhammad !", maka saya berkata : "Demi Allah, tidak akan saya lakukan sampai 
kamu mati kemudian dibangkitkan sekalipun", ia berkata : "Apa saya akan mati 

Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 50 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

kemudian dibangkitkan ?", saya berkata : "Ya !", dan ia berkata : "Ya, berarti di sana 
saya akan memiliki harta dan anak, kamudian saya akan membayar upahmu", maka 
Allah ta'ala menurunkan firman-Nya : 

"Maka apakah kamu telah melihat orang yang kajir kepada ayat-ayat Kami dan ia 
mengatakan, "Pasti aku akan diberi harta dan anak" (QS. Maryam : 77).] 

Hal itu terjadi di Makkah sedang saat itu ia adalah Darul Harbiy dan turunlah 
ayat ini berkenaan dengannya, dan Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam mengetahui hal itu 
serta mengakuinya. 

Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fathul Bari : "Mushani/ (penulis) tidak 
memastikan dengan hukum-hukum kebolehan, karena ada kemungkinan hal itu boleh 
dengan syarat darurat, atau karena kebolehan itu terjadi sebelum ada izin untuk 
memerangi kaum musyrikin dan menghantam mereka serta sebelum ada perintah agar 
orang mu'min tidak menghinakan dirinya sendiri." Kemudian ia menukil ucapan Al 
Muhallab: [Para ulama memakruhkan hal itu -yaitu bekerja pada kaum musyrikin- 
kecuali karena darurat dengan dua syarat: 

1. Pekerjaan itu terjadi dalam apa yang halal bagi orang muslim untuk 
melakukannya. 

2. Tidak membantu orang musyrik dalam suatu yang bahayanya kembali kepada 
kaum muslimin. (Fathul Bari : 4 / 452)] 

Kemudian beliau menukil kebolehan bekerja pada kafir diimmiy di toko-toko 
mereka, sedangkan orang-orang kafir dzimmiy itu adalah orang-orang kafir yang hidup 
di Darul Islam seraya tunduk kepada hukum Islam dan memberikan jiiyah langsung 
dari tangan mereka, sedang mereka hina." 

Dan kesimpulan adalah dikatakan: Sesungguhnya dimakruhkan bekerja pada 
kaum musyrikin kecuali karena kebutuhan atau darurat, dan dengan syarat dalam 
perbuatannya tidak ada macam maksiat kepada Allah ta'ala. 

Dan tidak dikatakan: bahwa kami mengharamkan setiap pekerjaan atau 
kedinasan, namun suatu yang terdapat di dalamnya nushrah (bantuan) atau pengokohan 
terhadap undang-undang dan hukum-hukum mereka yang bathil serta pemutakatan 
bersama mereka terhadapnya, maka ia adalah kekatiran (seperti polisi, tentara, anggota 
parlemen, dsb.) Dan pekerjaan yang terdapat maksiat di dalamnya maka ia haram, 
sedangkan pekerjaan yang tidak tergolong ini dan itu maka kami tidak mengatakan di 
dalamnya kecuali makruh saja. 

Dan sebab kami mengatakan makruh adalah kekhawatiran dari sikap mereka 
mencengkram orang muslim dan menahan haknya kecuali bila ia mau menuruti mereka 
dalam apa yang mereka cintai dan mereka inginkan, sebagaimana orang kafir itu 
meminta dari shahabat Khabab hal itu dan menahan upahnya, dan karena kekhawatiran 
dari munculnya macam rasa akrab dan kasih sayang karena sebab terlalu lama bergaul 
dengan orang kafir dan sering duduk-duduk dengan mereka, sehingga lembeklah 
masalahy4/ Wala dan Al Bara ' dan juga masalah cinta dan benci di jalan Allah, dan 
engkau telah melihat bagaimana Khabab saat bekerja pada orang kafir dalam keadaan 
merasa mulia (dengan agamanya) lagi menampakan diennya dan 
tidak mudahanah (basa-basi) kepada orang kafir walaupun dalam kondisi tertindas. Dan 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 51 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

barangsiapa berhujjah dengan kisahnya maka ia mesti memperhatikan keadaan shahabat 
Khabab radliyallahu 'anhu ini. 

Ini adalah ucapan kami dalam bab ini, dan Allah-lah yang meluruskan dan 
membimbing kepada kebenaran. Barangsiapa ingin lebih dapat tambahan maka silahkan 
merujuk kepada kitab kami: "Kasyfun Niqab An Syari 'atil Ghab " 

Dan dari bab yang lalu ini munculah cabang sebagai jawaban dari masalah yang kedua, 
yaitu hukum ikut serta dalam barisan tentara, polisi-polisi pemerintah ini, dan lembaga- 
lembaga intelejennya, karena dinas-dinas ini merupakan anshar (pelindung) 
pemerintah, auliya (aparat)nya yang membelanya, melindungi serta mengokohkan 
singgasananya. Oleh sebab itu Allah telah menyertakan mereka dalam kejahatan, 
kesalahan dan azab bersama thaghut dan para menterinya, Allah Subhanahu Wa Ta 'ala 
bertirman: 

"Sesungguhnya Fir 'aun dan Haman beserta bala tentaranya adalah orang-orang yang 
bersalah" (QS. Al Qashash: 8) 

dan dalam ayat azab, Dia Subhanahu Wa Ta 'ala berrirman : 

■? > ^^ ^ -* ^ ° a ^ °. ^ * ^ °. *^ 

(j^-JUaJl aJLp jLStlilS^JJijLs pj\ <J L&\jXli aSjistj oUJ^-Ls 

"Maka Kami hukum Fir 'aun dan bala tentaranya, lalu kami lemparkan mereka ke 
dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim" (QS. Al 
Qashash: 40) 

Dan telah lalu tirman Allah tabaraka wa ta 'ala: 

ijUoLSO *-gJl -t^-ij 4JjU I-SsJJ ,/> '» '. 1 iilJai JJ.J )*Aj ) IJj>-l L>*3 A^J Vj ZS>£a •Sr^C^ 

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada 
saudara-saudaranya yang kafir di antara Ahli Kitab : "Sungguh, jika kamu diusir 
niscaya kamipun akan keluar bersama kamu, dan kami selama-lamanya tidak akan 
patuh kepada siapapun demi kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan 
membantumu". Dan Allah menyaksikan bahwa mereka benar-benar pendusta. " (QS. Al 
Hasyr : 11) 

Lihatlah bagaimana Allah Subhanahu Wa Ta 'ala menjalinkan persaudaraan antara 
orang-orang yang menampakan Islam dengan kaum musyrikin tatkala orang-orang yang 
menampakkan Islam itu membisikan kepada mereka janji untuk membantu mereka 
terhadap kaum muwahhidin, padahal sesungguhnya Allah mengetahui dan menyaksikan 

o 

bahwa mereka itu dusta dalam janji mereka ini . Maka bagaimana dengan orang yang 
terang-terangan yang menyatakan bahwa ia itu bagian dari tentara thaghut, aparatnya, 
pasukannya dan intelejennya, serta bersumpah untuk setia kepadanya, melindungi 



Di dalam ayat ini ada taidah lain yang besar, yaitu bahwa tawalliy kepada orang-orang kafir dan 
membantu mereka terhadap kaum muwahhidin adalah kufur amaliy yang mengeluarkan dari millah 
(agama), meskipun pelakunya tidak meyakini atau tidak menghalalkannya di dalam hatinya. Dan kami 
telah membantah mereka dan membongkar syubhat mereka yang paling masyhur dalam risalah kami yang 
berjudul "Imta'un Nadlar Fi Kasyfi Syubhati Murji'atil 'Ashri", maka silahkan merujuk ke sana. 

Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 52 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

undang-undangnya yang kafir, bergadang dalam rangka menjaga dan mengokohkannya, 
dan bahkan bisa jadi mati di jalannya. Tidak diragukan bahwa orang-orang seperti ini 
telah lepas darinya agama ini, dan dia sama sekali tidak mencium bau tauhid serta tidak 
mengenal keindahan warnanya. 

Jadi hukum asal para tentara, intelejen dan yang semisal ini adalah bahwa mereka itu 
pasukan yang setia kepada thaghut, wali-walinya dan aparat pelindungnya. Sedangkan 
orang seperti itu maka hukum asal padanya adalah bahwa ia itu statusnya sama dengan 
status thaghutnya, karena tanpa mereka (tentara, polisi, intelejen dan yang serupa 
dengannya tentulah thaghut tidak bisa berkuasa dan berdiri . 

Dan oleh sebab itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah memtatwakan 
tentang para pembantu orang-orang zalim bahwa status mereka adalah sama dengan 
status orang-orang yang langsung berbuat zalim itu, dan bahwa sama dalam hal itu 
orang yang sekedar membantu dengan orang yang berbuat langsung menurut jumhur 
ulama (Majmu Al Fatawa: 3/61). 

Jadi, siapa yang membantu mereka terhadap kekatiran mereka maka status dia sama 
dengan status mereka. 

Dan begitu juga beliau memvonis murtad orang-orang yang bergabung dengan bala 
tentara budak undang-undang atau Yasiq Tattar, di mana beliau berkata dalam Fatawa- 
nya: "Dan setiap orang yang membelot kepada mereka dari komandan-komandan 
pasukan dan yang lainnya, maka status dia sama dengan status mereka. Di tengah 
mereka banyak terdapat macam riddah (kemurtaddan) dari syari'at Islam sejauh kadar 
apa yang dia campakan dari syari'at Islam ini. Bila saja salaf telah menamakan orang- 
orang yang menolak dari membayar zakat sebagai kaum murtaddun padahal mereka itu 
melaksanakan shaum dan shalat, padahal mereka itu tidak memerangi jama'ah kaum 
muslimin, maka apa gerangan dengan orang yang bergabung dengan musuh-musuh 
Allah dan Rasul-Nya lagi memerangi kaum muslimin?" (Majmu Al Fatawa: 28/530). 

Begitu juga Syaikhul Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah, beliau telah 
menggolongkan dalam pembatal-pembatal keislaman yang membuat kafir pelakunya: 
"Membantu kaum musyrikin dan bekerja sama dengan mereka terhadap kaum 
muslimin". Dan beliau juga berkata: "Dan begitu juga kami mengkafirkan orang yang 
memperindah syirik di hadapan manusia dan menegakkan syubhat-syubhat yang bathil 
untuk melegalkannya, dan begitu pula orang yang melindungi tempat-tempat 
kemusyrikan dengan pedangnya, dia berperang dengan senjata dalam rangka 
mempertahankannya, dia mengingkari dan memerangi orang-orang yang berupaya 
melenyapkannya." (Majmu'atir Rasail Asy Syakhshiyyah: 60) 

Begitu juga setiap orang yang menjaga thaghut dan sarang-sarangnya, dia bekerja dalam 
rangka mengokohkan pemerintahannya yang kafir, dan mengingkari orang yang 
berupaya untuk menghancurkannya dari kalangan mujahidin muwahhidin, karena 
hukum asal bagi setiap orang yang berperang di jalan thaghut adalah bahwa ia itu 
termasuk golongan orang-orang kafir. Allah ta'ala berfirman: 

"Dan orang-orang kajir adalah berperang dijalan thaghut" (QS. An Nisa': 76). 



Yang mana tentara, polisi, dan intelejen itu ibarat pasak/paku yang mengokohkan bangunan (sistem dan 
kekuasaan) yang bila mereka tidak ada, maka bangunan kekuasaan thaghut itu tidak akan berdiri. (Pent) 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 53 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

Akan tetapi walaupun demikian, kami tidak mengingkari bahwa bisa saja ada 
pada barisan tentara thaghut itu ada orang yang menyembunyikan sikap pengkatirannya 
terhadap thaghut tersebut dan menyembunyikan sikap bara ' dari kebathilannya, serta ia 
mencari kesempatan untuk keluar dan lari dari pasukan dan tentara thaghut atau untuk 
berjuang bagi agama Allah dan membela-Nya. Di antara mereka itu ada yang jujur, 
yang diberi hidayah oleh Allah saat dia berada di dalam dinas ketentaraan, di mana ia 
mengenal kebenaran dan tauhid, dan ia mengungkapkan kekatiran dia terhadap thaghut 
serta sikap bara'ah dari kebathilannya dengan suatu amalan yang besar yang di 
dalamnya ia menolong Islam ini dan para penganutnya, serta di dalamnya ia 
menampakan sikap bara'ah dari thaghutnya, dan pengingkarannya terhadap segala 
kebathilannya, ataupun dengan keluar dari tempat dinasnya serta menjauhi langsung 
setelah Allah memberinya hidayah kepada kebenaran, petunjuk dan cahaya. 

Dan di antara mereka itu ada orang yang bohong yang mengklaim bahwa ia itu berbuat 
untuk agama Allah, padahal ia itu pada hakikat sebenarnya bekerja untuk saku dan 
perutnya di mana ia menjual tauhidnya dan ikatan iman yang paling kokoh dengan 
harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja. Dan alangkah serupanya mereka itu 
dengan orang-orang yang Allah tirmankan: 

"Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di 
dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum 
kafir" (QS. AnNahl: 107). 

Dan di antara macam yang akhir ini adalah orang-orang yang tinggal di Makkah setelah 
hijrah Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, mereka absen dari hijrah dan (absen) dari 
keluar dari barisan orang-orang kafir ke barisan orang-orang yang bertauhid karena 
berat dengan tanah air, tempat tinggal dan harta, dan karena lebih mementingkan hal itu 
daripada agama padahal bumi Allah itu sangat luas dan mereka memiliki kemampuan 
untuk keluar dan bergabung dengan barisan para muwahhidin andaikata mereka mau, 
akan tetapi mereka malah diam dan betah serta berat untuk meninggalkan buminya, 
kemudian tatkala mereka sampai pada hari penentuan, yaitu hari bertemunya dua 
pasukan (di Badar), maka kaum musyrikin memaksa mereka keluar dan menjadikan 
orang-orang itu di barisan terdepan, sehingga bila kaum muslimin menembakkan panah, 
mereka membunuh sebagian orang-orang itu, oleh sebab itu Allah Subhanahu Wa 
Ta 'a/amenutunkan firman-Nya: 

J»}i\ J 0>&2&J> I^IjJIj &£lJ> °\Jti UJ& ^J> i£pUl Li&p ^JJl 01 

\jyfj> Os.U-j Z-&r LijjU tlisJjU L4J Ij^-L^y **-?!5 aJJI {y>°j\ j>J i \ IjJlJ 

" Sesungguhnya orang-orang yang diwajatkan Malaikat dalam keadaan menganiaya 
diri sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu 
ini?". mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri 
(Mekkah) ". Para Malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu 
dapat berhijrah di bumi itu?" Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan 
Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali". (QS. AnNisa': 97) 

Allah mencap mereka sebagai orang-orang yang zalim kepada diri mereka sendiri, 
karena di antara kezaliman diri yang paling besar adalah ia terhalang dari menemani 
kaum muwahhidin, membela mereka dan bergabung di barisan mereka, dan mereka 

Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 54 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

malah tinggal di tengah kaum musyrikin atau barisan kaum murtaddin, kemudian Allah 
ta'ala menurunkan kepada kita pertanyaan malaikat terhadap mereka "dalam keadaan 
bagaimana kami ini ?", yaitu di barisan siapa kalian ini berada dan di tentara siapa 
kalian...?, serta pasukan siapa kalian, apakah tentara dan pasukan thaghut ataukah 
tentara dan pasukan muwahhidin...?. Mereka itu tidak berada di barisan kaum 
muwahhidin, tidak bergabung dengan tentara mereka serta tidak pula memblok kepada 
pasukan mereka, akan tetapi mereka berhujjah sebagaimana yang biasa dilakukan 
banyak orang-orang yang sesat pada hari ini dengan alasan istidl'af (ketertindasan), 
darurat dan keterpaksaan yang dusta. Mereka mengatakan : "adalah kami orang-orang 
tertindas di negeri (Makkah) ". 

Dan begitulah jawaban setiap orang yang sesat dari kalangan yang memasukkan dirinya 
dalam bala tentara (aparatur) thaghut, di mana pada umumnya mereka itu beralasan 
dengan alasan darurat, mata pencaharian, tempat tinggal, isteri, orang tua, atau anak dan 
yang lainnya berupa materi kehidupan dunia dan tipu dayanya, padahal sesungguhnya 
Allah adalah Sang Pemberi Rizqi lagi Maha Kokoh, padahal pintu-pintu rizqi-Nya 
adalah sangat luas dan siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Dia menjadikan 
baginya jalan keluar, oleh sebab itu malaikat menjawab hujjah mereka yang lemah ini 
dengan ucapan mereka : "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu bisa berhijrah 
di bumi itu ?, orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk- 
buruk tempat kembali". 

Perhatikanlah wahai saudaraku... perdebatan yang menakutkan ini ditempat yang besar 
itu, dan perhatikanlah akhir perjalanan yang buruk ini, kita berlindung kepada Allah 
darinya. Perhatikanlah Tauhid kalian, pegang teguhlah hal itu jangan kalian lepaskan 
dia demi gaji, pekerjaan atau materi dan pernak-pernik dunia yang fana ini, dan 
janganlah kalian menjadi bagian tentara para thaghut dan tentara iblis yang 
Allah Subhanahu Wa Ta 'ala tirmankan: 

"Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan yang berserikat pasti 
akan dikalahkan". (QS. Shaad: 11) 

dan tirmanNya Subhanahu Wa Ta 'ala : 

"maka mereka (sembahan-sembahan itu) dijungkir ke dalam neraka bersama orang- 
orangyang sesat dan bala tentara iblis semuanya". (QS. Asy Su'ara : 94-95) 

Akan tetapi larilah kalian kepada Allah, dengan membawa agama dan tauhid kalian dari 
setiap pekerjaan dan kedinasan yang seperti itu, dan jadilah kalian bagian dari tentara 
Allah yang bertauhid sebagaimana firman-Nya: 

"Dan sesungguhnya tentara kami, itulah yang pasti menang" (QS. Ash Shataat : 173) 

Bukti di sini adalah bahwa Allah tidak mengudzur orang-orang yang mengaku Islam 
tatkala mereka mati di barisan (tentara) kaum musyrikin, kecuali di antara mereka yang 
benar-benar tertindas dari kalangan wanita dan anak-anak yang tidak memiliki daya dan 
tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), dan Allah juga tidak menganggap berdosa orang 
yang membunuh mereka dan memerangi mereka dari kalangan muwahhidin, akan tetapi 

Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 55 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

Dia memberikan pahala dan balasan yang besar bagi mereka, di mana setiap orang yang 
mengikuti perang Badar memiliki keistimewaan khusus dan keutamaan yang besar. Dan 
ini serupa dengan pembinasaan Allah ta'ala terhadap pasukan yang hendak menginvasi 
Ka'bah seluruhnya, sedangkan di tengah mereka ada orang yang tidak keluar bersama 
mereka untuk berperang, akan tetapi hanya memperbanyak jumlah mereka saja dan 
yang lainnya. 

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu Al Fatawa: 
28/537 : "Allah ta'ala telah membinasakan pasukan yang ingin mengotori kehormatan- 
kehormatan-Nya (tanah suci) — yang dipaksa di antara mereka dan yang tidak 
dipaksa — padahal Dia mampu memilah-milah di antara mereka, padahal (juga) Dia 
membangkitkan mereka di atas niat-niat mereka, maka bagaimana wajib atas kaum 
mu'minin mujahidin untuk memilah-milah antara orang yang dipaksa dengan orang 
yang tidak dipaksa sedangkan mereka tidak mengetahui hal itu?" 

Dalam hal ini ada taidah yang wajib diperhatikan, yaitu bahwa orang yang berada di 
barisan pasukan tentara thaghut maka sesungguhnya kaum muwahhidin diudzur, bahkan 
dapat pahala dalam membunuh orang tersebut, memerangi dan memperlakukannya 
sebagai orang kafir walaupun dia mengklaim bahwa ia menyembunyikan Tauhid dan 
Iman, karena kita dalam hukum dunia ini diperintahkan untuk menghukumi berdasarkan 
dhahir, dan adapun masalah bathin maka kita tidak memiliki jalan untuk mengetahuinya 
setelah keterputusan wahyu. 

Oleh sebab itu sebagian ulama telah membagi tentara thaghut atau kaum musyrikin 
kepada dua macam : 

1. Orang-orang kafir, yaitu orang-orang yang memerangi kaum muwahhidin 
sebagai bentuk bantuan bagi orang-orang musyrik/thaghut. 

2. Orang-orang yang diperlakukan sebagai orang-orang kafir, yaitu orang-orang 
yang menambah jumlah banyak orang-orang kafir saja 11 . 

Dalam hal itu Syaikh Muhammad Ibnu Abdullathit Alu Asy Syaikh 
rahimahullah berkata: "Tidak dikatakan bahwa ia dengan sekedar berkumpul dan 
tinggal bersama orang musyrik adalah menjadi kafir, akan tetapi yang dimaksud adalah 
bahwa orang yang tidak mampu keluar dari tengah kaum musyrikin terus mereka 
mengeluarkannya dengan paksa bersama mereka (untuk memerangi kaum muslimin), 
maka status orang tersebut sama dengan status mereka dalam hal dibunuh dan diambil 
hartanya, tidak dalam kekarirannya. Adapun bila ia keluar bersama mereka untuk 
memerangi kaum muslimin secara sukarela dengan kemauan sendiri, dan ia membantu 
mereka dengan badan dan hartanya maka tidak ragu lagi bahwa status orang tersebut 
adalah sama dengan status mereka dalam kekaiirannya." (Majmu'atur Rasaa'il wal 
Masa'il : 2/135). 

Maka hati-hatilah dari tempat-tempat yang menjerumuskan ini, dan bersegeralah 
berlepas diri dari musuh-musuh Allah, kufur terhadap mereka, dan menjauh dari 
mereka. Sesungguhnya orang yang tidak merealisasikan itu di dunia, maka ia akan 
berangan-angan saat penyesalan tidak berguna untuk bisa kembali ke dunia, bukan 
untuk shalat, bukan untuk zakat, dan bukan pula untuk shaum, akan tetapi untuk 
merealisasikan terlebih dahulu pokok agung ini, yaitu bara 'ah (berlepas diri) dari 
musuh-musuh Allah ta'ala, karena tanpa hal itu tidaklah bermanfaat shalat, zakat, dan 
shaum sebagai mana Allah Subhanahu Wa Ta 'ala bertirman : 



1 Ini kalau jika ada kekatiran lain seperti sumpah dan yang lainnya. (Pent> 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 56 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

fi\jS\ ih\ feij> &&? iL \$g \^s f4i« tj^i S*f iXJ St jj IjaJi ^jJi jiij 

jlIJl £jA (j^rj^k: ^A Uj L^ip Ol^ 



"Z)an berkatalah orang-orang yang mengikuti : "Seandainya kami dapat kembali 
(kedunia) pasti kami akan berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka berlepas diri 
dari kami", Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya 
menjadi sesalan bagi mereka, dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api 
neraka". (QS. Al Baqarah : 167) 

dan firman-Nya ta'ala : 

ui USj jJiij n n SljijJ! U&lj A &U £3 15 OjJji: jilsi j ^j^i v^" c£ 

*\A !j>pu*J * ^AyJlj <— >!JJol ^ uii*^» *j£! ujj IV *>W~Jl UjJui>li U«.!^Sj lioU- u*i?! 

"Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan di dalam neraka, mereka berkata : 
"Alangkah baiknya andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul", 
dan mereka berkata : "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin- 
pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan 
(yang benar). Ya Tuhan kami, limpahkanlah kepada mereka azab dua kali lipat, dan 
kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". (QS. Al Ahzab : 66-68) 

Inilah, sedangkan di dalam bab ini terdapat banyak hadist yang mengancam dan 
menghati-hatikan dari pekerjaan-pekerjaan semacam ini di sisi para penguasa (muslim) 
yang aniaya dan zalim, maka bagaimana dengan bekerja dengan hal serupa pada para 
penguasa yang kafir, musyrik dan murtad?? Dan di antara hadist-hadist itu antara lain : 

• Apa yang diriwatkan Muslim dalam Shahih-nya: (Adalah kami duduk besama 
Hudzaifah radliyallahu 'anhu di masjid, terus datang seorang laki-laki sampai ia 
duduk dekat kami, maka dikatakan kepada Hudzaifah : "Sesungguhnya orang 
ini suka menyampaikan banyak hal kepada penguasa ", maka Hudzaifah berkata 
dalam rangka membuat ia mendengar : "Tidak masuk surga Qatat"). Dan juga 
ini diriwayatkan oleh Bukhari: sedangkan Qatat adalah sebagaimana dalam 
Fathul Bari: "Orang yang mencari dengar tanpa ia diketahui terus 
menyampaikan apa yang ia dengar itu". Ini dikatakan pada masa Khalifah 
Utsman radliyallahu 'anhu, dan bila saja orang yang menyampaikan berita 
kaum muwahhidin kepada khalifah muslim untuk merusak di antara kaum 
muslimin adalah tidak masuk surga, maka bagaimana dengan orang yang 
memata-matai kaum muwahhidin untuk kepentingan kaum musyrikin untuk 
mengokohkan singgasana mereka dan melindungi undang-undang mereka 
yangbathil...??!. Tidak ragu lagi bahwa ini termasuk bentuk membantu kaum 
musyrikin dan bekerja sama dengan mereka terhadap kaum muwahhidin, 
sedangkan engkau mengetahui hukumnya. Dan dalam memperlakukan orang- 
orang macam dia itu di dunia silahkan rujuk apa yang diriwayatkan oleh Bukhari 
dan yang lainnya dari Salamah Ibnul Akwa tentang mata-mata/intel/spionase 
(jasus) kaum musyrikin (Fathul Bari : 6/168) 

• Apa yang diriwayatkan Ibnu Hibban, Abu Ya'la, Ath Thabrani dalam Al 
Mu'jam Ash Shagir dan yang lainnya, juga Al Khatib Al Baghdadiy 11 , 



11 



Tarikh Baghdad : 10/284, 12/63 

Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 57 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

sedangkan lafadh adalah riwayat beliau secara marfu' : "Akan ada di akhir 
jaman para penguasa yang dzalim, para menteri yang fasiq, dan para fuqaha 
yang dusta. Siapa yang mendapati mereka maka janganlah ia bekerja untuk 
mereka sebagai Arij , Jabi (penarik pungutan), penjaga (perbendaharaan), 
dan polisi". Sedangkan dalam lafadh Ibnu Hibban, Abu Ya'ala dan Ath 
Thabrani: "Sungguh akan datang atas kalian para penguasa yang bodoh yang 
mendekatkan orang-orang jahat dan mengakhirkan shalat dari waktu- 
waktunya . Siapa yang mendapatkan hal itu dari mereka, maka janganlah ia 
menjadi 'arif, polisi, penarik zakat dan penjaga (perbendaharaan) " . (Dan ia 
adalah hadist shahih dengan jalan-jalannya.) 

• Hadist Ath Thabrani dan yang lainnya dari Ibnu 'Abbas, bahwa Nabi Shalallahu 
'alaihi wa sallam berkata : "Akan ada pemimpin yang kalian ketahui dan kalian 
ingkari, siapa yang menentang mereka maka ia beruntung, siapa yang menjauhi 
mereka maka ia selamat, dan siapa yang bergaul campur dengan mereka maka 
ia binasa. " 

Hati-hatilah kamu jangan sampai tergolong orang-orang yang binasa. . . ! 

• Begitu juga apa yang diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad dalam Musnad-nya 
dan Muslim dalam Shahih-nya dari Ummu Salamah: "Sesungguhnya kelak akan 
memerintah kalian para pemimpin yang kalian kenali dan kalian ingkari, siapa 
yang mengingkari maka ia telah berlepas diri, dan siapa yang membenci 
mereka maka ia akan selamat, akan tetapi (yang binasa adalah) orang yang 
ridha dan mengikuti. " 

Maka janganlah sampai kamu tergolong orang-orang yang mengikuti...awas, 
janganlah seperti itu! 

• Begitu juga apa yang diriwatkan oleh Imam Ahmad dan Ath Thabrani dari 'Abis 
Al Ghifari secara marfu' : "Bersegeralah untuk mati" — dalam satu riwayat: — 
"Bersegeralah melakukan amalan sebelum tiba enam hal : Kepemimpinan 
orang-orang bodoh, banyaknya polisi, penjualan hukum, ..." 

Perhatikanlah bagaimana Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam telah menganggap 
banyaknya polisi sebagai bagian dari fitnah (bencana) yang beliau khawatirkan 
atas umatnya. Dan di dalam asal hadist ini sesungguhnya shahabat (yang 
meriwayatkan hadist ini) memandang bahwa fitnah ini telah terbukti pada 
zamannya, oleh karena itu mengangan-angankan untuk mati, maka bagaimana 
dengan zaman ini yang banyak keburukannya dan sedikit kebaikannya?, maka 
hati-hatilah kamu dari jalan-jalan dan berbagai trik musuh-musuh Allah. 



• 



Al Imam Ahmad, Al Hakim, dan Ath Thabrani dalam Al Ausath dan Al Kabir 
dari Abu Umamah, bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam berkata: 
"Akan ada nanti di akhir zaman polisi-polisi yang berangkat pagi-pagi dalam 
murka Allah, dan kembali dalam kebencian Allah ", dan Ath Thabrani 
menambahkan: "Maka janganlah sekali-kali kamu menjadi bagian orang-orang 
yang dekat dengan mereka. " 



12 'Arif adalah tokoh masyarakat dari setiap suku dan yang lainnya yang diangkat sebagai perantara 
antara penguasa dan masyarakat yang menyampaikan masalah-masalah yang dialami masyarakat kepada 
penguasa (Pellt) 

13 Maksudnya mereka mengakhirkan shalat dan melaksanakannya di akhir waktu sebelum waktu 
habis (Pent) 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 58 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

Bahasan ini panjang pembicaraan di dalamnya, akan tetapi dalam kadar ini terdapat 
kecukupan bagi orang-orang yang menginginkan hidayah. 

Dan dari uraian yang lalu ini jelaslah di hadapanmu jawaban dari pertanyaan ketiga, 
karena ajaran kafir adalah satu, baik itu lokal maupun internasional, sedangkan 
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) atau Persekongkolan Bajingan Bajingan adalah 
lembaga kafir yang dikendalikan Yahudi yang tidak berdiri kecuali untuk melindungi 
kepentingan orang-orang kafir, baik itu Yahudi, Nashrani, maupun orang-orang mulhid. 
Bila saja kami tidak membolehkan bagi diri kami dan bagi ikhwan kami kaum 
muwahhidin untuk menjadi tentara dan anshar bagi satu negara dari negara-negara kafir 
itu dan kami menganggap itu bagian dari kekafiran, maka bagaimana boleh mereka 
menjadi hal seperti itu untuk negara-negara itu seluruhnya yang berserikat ? Yang di 
mana tentara-tentara itu membantu resolusi-resolusinya, politik-politiknya, dan putusan- 
putusannya yang muncul dari mahkamah kafir mereka, yaitu Mahkamah Internasional, 
sehingga mereka menjadi tentara yang setia terhadapnya dan terhadap undang-undang 
internasional yang kafir itu. Mereka berangkat untuk melindungi resolusi-resolusinya 
dan membela undang-undangnya dengan kekuatan senjata dan bisa jadi mereka 
terbunuh di jalannya. Kita memohon keselamatan dan 'afiyah kepada Allah Subhanahu 
Wa Ta 'ala. Inilah yang sama sekali tidak bisa diterima oleh orang-orang yang memiliki 
sedikit akal saja, apalagi oleh orang yang telah mencium wangi tauhid. 

Di dalam Shahih Bukhari, Kitabul Fitan bab: "Orang-orang yang benci memperbanyak 
jumlah orang-orang dalam jitnah dan kedzaliman " : Dari Abul Aswad berkata : 
"Ditetapkan keharusan mengirim pasukan atas ahli Madinah, maka saya mendattarkan 
diri di dalamnya, kemudian saya menjumpai Ikrimah, lalu saya mengabarkan hal itu, 
maka dia sangat melarangnya, kemudian berkata : "Ibnu 'Abbas mengabarkan kepada 
saya bahwa sejumlah dari kaum muslimin dahulu memperbanyak jumlah kaum 
musyrikin melawan Rasulullah, kemudian datang panah yang ditembakkan mengenai 
kepada salah seorang dari mereka sehingga membunuhnya, maka Allah menurunkan 
firman-Nya: 



f-4-JSJf ^lk aSJMJ! ^kWy jjJJ! St 



"Sesungguhnya orang-orang yang di wafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya 
diri sendiri... " (QS. An Nisa': 97) 

Perhatikanlah — semoga Allah merahmatimu — larangan mereka dari menjadi utusan 
dalam pasukan yang memperbanyak jumlah orang-orang yang zalim, maka bagaimana 
dengan orang yang menjadi utusan dalam pasukan yang memperbanyak jumlah orang- 
orang kafir, musyrikin dan murtaddin? Maka hati-hatilah kamu jangan sampai 
menelantarkan agamamu karena ia adalah hal termahal yang engkau miliki, sedangkan 
selain itu adalah menuju kepada kehancuran. 

Inilah yang bisa diutarakan dalam kesempatan yang singkat ini, saya memohon kepada 
Allah agar menjadikan saya dan saudara-saudara saya kaum muwahhidin bagian dari 
orang-orang yang mendengarkan ucapan, lalu mengikuti yang paling baik di antaranya, 
agar Dia mengokohkan kami atas Al Haq Al Mubin, serta menjadikan kami bagian dari 
anshar dien-Nya dan orang-orang pilihan-Nya, serta mengakhiri kehidupan kami 
dengan kesyahidan di jalan-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha 
Mengabulkan 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 59 ] 



At-Tawhid wal Jihad 

Dan Akhir seruan kami adalah segala puji milik Allah Rabbul 'Alamin, dan shalawat 
serta salam semoga dilimpahkan kepada Nabi-Nya Muhammad, keluarganya dan para 
shabatnya. 

Pertengahan Bulan Safar 1414 H 
Abu Muhammad 'Ashim Al Maqdisiy 

Penterjemah berkata: Selesai diterjemahkan siang hari Kamis 15 Rabi'ul Awwal 1427 H 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 60 ] 



At-Tawhid wal Jihad 



Ini adalah tiga judul materi perihal rincian status bekerja di dinas pemerintahan thaghut, 
dan silahkan pembaca menyimpulkannya sendiri dan jangan tertipu oleh ritnah Khairul 
Ghazali yang mengada-ada. 

Nasehat saya kepada Khairul Ghazali dan orang-orang yang serupa dengannya, 
hendaklah mereka takut kepada Allah ta'ala dan selalu mengingat bahwa di sana ada 
hari pembalasan yang mana para thaghut yang mereka bela-bela itu akan berlepas diri 
dari para pembelanya, dan hendaklah ingat bahwa tindakan mereka itu adalah 
mendatangkan murka Allah dengan bukti bahwa para thaghut sangat meridlai perbuatan 
mereka dan menjajakannya kepada umat manusia dengan diajak berkeliling kemana- 
mana, dan menyebar luaskan karya-karya mereka. Padahal ridla Allah tidak mungkin 
berkumpul dengan ridla thaghut, dan hendaklah diingat selalu bahwa kebathilan akan 
segera lenyap walaupun untuk sementara menjadi popular karena peran thaghut, dan 
adapun al haq akan meresap dan menetap di dalam bumi walaupun segala upaya 
perintangan terhadapnya dilakukan. Maka silahkan Khairul Ghazali menikmati sesaat 
apa yang dia dapatkan dari ridla thaghut tersebut, karena sesudahnya akan ada balasan 
kebalikannya dari Allah Subhanahu Wa Ta 'ala, andai mereka tidak taubat sebelum ajal 
tiba. 



Abu Sulaiman Aman Abdurrahman 



Ya. . . Mereka Memang Thaghut! [ 61 ]